Feed on
Posts
Comments

Jogja Never Ending Love (4)

Di usianya yang senja, setengah abad lebih, pak Kirno masih bekerja keras. Sudah dua puluh tahun lewat beliau menekuni profesinya, mengantar wisatawan dari satu lokasi ke lokasi lain. Sebuah loyalitas yang luar biasa.

Pak Kirno mempunyai tiga orang putra. Yang dua sudah menikah, satu masih kuliah. Putra pertamanya bekerja di maskapai penerbangan yang cukup terkenal. Sedangkan yang nomor dua bekerja di Belanda, di bidang furniture.

Nampak rasa bangga ketika beliau menceritakan hal ini. Saya pun terperanjat, terpaku dalam bisu, hening mendengarkan. Ada rasa tak percaya melintas. Luar biasa dan hebat, kata saya tak terucap.

Selama beliau bercerita , tiada kesan jumawa yang saya rasakan. Dari tutur katanya yang halus, saya menangkap figur kepribadian yang luhur. Keramahan, kesopanan dan tindak tanduknya cukup terukur. Ini membuat saya tidak enak hati. Sering salah tingkah sendiri.

Diam-diam, kekaguman saya kepada beliau mulai tumbuh. Hati saya teresonansi. Jika berkaca kepada orang seperti pak Kirno, saya malu. Generasi macam apa saya ini. Susah sedikit, mengeluh. Sukses sedikit, angkuh.

Apakah lintasan zaman memang merusak sebuah generasi. Sehingga mencetak manusia-manusia yang lemah. Asing terhadap dirinya sendiri. Hidup dalam ketidaktenangan, hedonis, konsumtif. Entahlah. Tak perlu mencari kambing hitam. Rasanya, instropeksi diri jauh lebih bermanfaat.

Selepas dari bandara, kami mencari toko kamera. Di depan sebuah gedung, pak Kirno memarkirkan mobil. “Di sini cukup lengkap mas. Sepertinya baru buka. Monggo, santai mawon” kata pak Kirno.

Toko itu terletak di jalan Solo-Jogja. Jika dari Adi Sucipto, lokasinya di sebelah kiri jalan. Bangunan kuno berlantai satu. Barang yang dipajang beragam. Banyak pilihan dari berbagai merk. Pak Kirno benar.

Akhirnya setelah memilih ini itu, saya membeli kamera film merk konica. Harganya sembilan puluh ribu. Dapat bonus tiga roll film dan baterai.

“Sakniki, ten pundi rumiyin pak” tanya saya.
”Badhe ten keraton nopo mboten” kata pak Kirno.
”Nggih” jawab saya.
”Ten keraton rumiyin mawon. Mangke menawi sonten, tutup” kata pak Kirno.
”Tutupe jam pinten to” tanya saya.
”Jam kaleh” jawab pak Kirno.

Tikungan demi tikungan kami telusuri. Dari balik kaca hitam, saya melihat Tugu yang sangat terkenal itu. Tugu Yogyakarta. Hotel tempat kami akan menginap, hanya beberapa meter saja dari Tugu tersebut.

Entah pada tikungan yang keberapa, kami lewat di jalan Malioboro. Aktivitasnya belum ramai. Nampak para pedagang sedang bersiap-siap membuka lapak. Saat itu kira-kira pukul sembilan kurang sekian menit.

“Masih sepi mas. Orang Jogja hidupnya nyantai” kata pak Kirno mengomentari suasana yang terlihat.
”Nggih pak. Kalau di Jakarta, jam segini sudah ramai” kata saya memberi gambaran kepada pak Kirno. (“Nggak tahu ramai pada ngapain. Pada serakah paling” kata saya dalam hati).

Keraton Jogja
Sekitar pukul sembilan kami tiba di Keraton Jogja. Kerajaan yang dibangun tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi. Pemerintahannya masih aktif sampai sekarang. Berarti sudah 253 tahun usianya. Sebuah warisan leluhur yang merekam jejak zaman.

Pak Kirno memarkirkan mobil di depan pos tentara. Sepertinya kantor koramil. Pohon besar yang rindang tumbuh di halamannya.

Tempat parkir itu berada di sisi Barat keraton persis. Beberapa langkah saja, kami sudah masuk ke lokasi keraton. Waktu study tour SMP, seingat saya, pintu masuknya bukan di sini. Namun di depan, dekat alun-alun lor. Zaman memang sudah berubah. Hal ini sering tidak saya rasa dan sadari.

Di sekitar lokasi parkir terdapat beberapa penjual sovenir. Ada blangkon, kacamata, topi, tas rajut, kaos, gantungan kunci, batik, miniatur candi, dan aneka kerajinan tangan lainnya.

Harga tiket masuk keraton lima ribu rupiah per orang. Jika membawa kamera, pengunjung dikenakan biaya tambahan seribu rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk pemandu wisata yang disediakan oleh keraton.

Yang menjadi pemandu kami, namanya mbak Menik. Seragamnya batik yang dipadu dengan rok di bawah lutut. Keduanya didominasi warna kuning. Sedangkan sepatunya, pantofel hitam.

Beberapa langkah ke arah Timur, dari loket tiket, di depan pintu gerbang, mbak Menik menunggu kami. Pintu gerbangnya, jika dilihat dari depan seperti buntu tertutup tembok. Hal ini untuk menjaga keamanan. Orang tidak bisa melihat langsung ke dalam keraton. Selain itu juga bisa berfungsi untuk menahan laju orang yang akan masuk.

Setelah melalui pintu gerbang, di sisi Barat kami melihat bangsal Sri Manganti. Bangsal ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan pariwisata keraton. Di bangsal ini pengunjung bisa duduk beristirahat sambil menikmati pertunjukan yang sedang diadakan, setelah berkeliling keraton.

Saat itu, kami menikmati pagelaran wayang golek asli Jawa. “Bukannya wayang golek itu dari Sunda mbak” tanya saya kepada mbak Menik. “Bukan, dari Jawa juga ada” kata mbak Menik. Saya baru tahu, ternyata ada wayang golek Jawa.

Di sebelah Timur Bangsal Sri Manganti terdapat reruntuhan Bangsal Traju Mas. Hanya bangunan lantainya saja yang tersisa. Gempa di Yogyakarta yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 telah merobohkan bangsal ini.

Antara Bangsal Sri Manganti dan Traju Mas, di sebelah Selatannya terdapat pintu gerbang lagi. Setelah melalui pintu gerbang tersebut, di sisi Barat kami melihat rumah Sultan menghadap ke Timur. Ada dua kaca besar tergantung di dindingnya. Pintu dan tiangnya didominasi warna kuning. Rumah itu disebut juga Gedung Kuning.

Di sebelah Tenggara Gedung Kuning terdapat Bangsal Kencono. Bangunan yang sering terlihat di TV. Langit-langit, dinding dan tiangnya dari kayu Jati yang diukir. Kata mbak Menik, warna kuning pada ukiran tersebut dilapisi serbuk emas.

Bangsal Kencono adalah bangsal yang terlihat paling mewah. Bangsal ini sering digunakan untuk acara besar keraton. Salah satunya waktu pernikahan putri Sultan yang ketiga, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurkamnari Dewi (30), dengan seorang pengusaha, Yun Prasetyo Hadi (32) pada Jumat 9 Mei 2008.

Setelah menikah, putra atau putri raja tinggal di luar lingkungan keraton. “Kenapa kok begitu mbak” tanya saya. “Ya nanti kalau tinggal di keraton semua, keratonnya jadi penuh” jawab mbak Menik. “Nanti kalau sudah diangkat jadi raja, baru tinggal di keraton lagi” kata mbak Menik menjelaskan.

Di samping Barat Bangsal Kencono terdapat ruang pusaka. Di sanalah pusaka-pusaka keraton disimpan. Bangsal ini tertutup untuk umum. Hanya kacanya saja yang bisa dilihat dari Bangsal Kencono. Sedangkan di Selatan ruang pusaka terletak Kaputren, tempat istri dan putri raja tinggal. Area ini juga tertutup untuk umum.

Jika ditarik garis lurus dari Utara ke Selatan maka akan terdapat bangunan: Bangsal Sri Manganti, Gedung Kuning, Ruang Pusaka dan Kaputren.

Di Selatan Bangsal Kencono berdiri Bangsal Manis. Kedua bangsal ini berhimpitan. Bangsal Manis digunakan untuk mencuci pusaka keraton. Pusaka dari ruang pusaka. Acara cuci pusaka dilaksanakan setiap tanggal satu Suro, saat tahun baru Jawa.

Di sebelah Timur komplek Bangsal Kencono ada halaman yang cukup luas. Di sini tumbuh pohon yang meneduhkan. Di halaman ini, sering digunakan pengunjung untuk berfoto.

Di sisi Selatan Bangsal Manis terdapat Gedhong Patehan. Fungsinya untuk menyiapkan aneka minuman jika ada acara di Bangsal Kencono. Waktu pernikahan putri Sultan yang ketiga, gedung ini masih digunakan. Di dalam Gedhong Patehan terdapat bermacam-macam koleksi peralatan minum yang antik dari berbagai negara. Mulai gelas hingga saringan air (dispenser) zaman dulu.

Selain bangunan diatas, kami juga mengunjungi museum lukisan. Di dalam museum ini terdapat lukisan para Sultan beserta permaisurinya. Mulai dari Sultan HB III sampai HB X. Kenapa lukisan Sultan HB I dan HB II tidak ada. Kata mbak Menik, di zaman itu belum ada pelukis yang melukis Sultan.

Permaisuri adalah istri raja yang juga keturunan raja. Orang biasa bilang keturunan darah biru. Jika bukan keturunan raja maka namanya selir. Hanya permaisuri yang bisa duduk bersebelahan dengan raja saat berada di singgasana.

Lalu kami juga mengunjungi museum peralatan yang dipakai para Sultan sehari-hari. Setiap Sultan mempunyai barang khas sendiri-sendiri. Tidak ada yang sama. Di ruangan itu, seingat saya ada gelas, sendok, piring, pistol, pedang, baju adat yang dipakai Sultan HB IX waktu sunat. Selain itu, ada juga mobil-mobilan, kamera dan teropong milik Sultan HB IX.

Kemudian kami melihat museum cindera mata. Di dalam museum tersebut terdapat cindera mata dari negara-negara sahabat. Seingat saya, ada hiasan keramik dari Jepang, guci dari Cina, tanduk kerbau yang sangat panjang dari Korea, lampu kristal dari Eropa, jam dari Belanda, dan lain-lain.

Waktu kami di ruangan ini, bebarengan dengan rombongan wisman dari Cina. Suara mereka gaduh sekali. Pemandunya memakai beskap dan menggunakan bahasa Cina juga.

Semua bangunan di atas adalah bangunan lama. Namun, ada satu bangunan yang mencolok dan tergolong bangunan baru. Sebuah pendopo bertembok kaca dengan keramik putih masa kini. Bangunan tersebut adalah museum Sultan HB IX. Di dalamnya dipajang barang-barang khusus milik Sultan HB IX. Ada meja kerja, lencana / tanda jasa yang pernah dipakai, prasasti, pesan Bung Karno, foto dan lain-lain.

Sultan HB IX diangkat jadi raja sepulang dari sekolah di Belanda. Waktu itu usianya masih 28 tahun dan belum menikah. Beliau juga dikenal sebagai bapak Pramuka Indonesia. Salah satu hobinya adalah fotografi.

Selama berkeliling, mbak Menik menemani kami dengan sabar. Ia menjelaskan setiap tempat yang kami kunjungi. Sesekali ia juga menjawab pertanyaan saya dan memotret kami berdua.

Tak terasa, dua jam sudah kami berkeliling di dalam keraton. Banyak tempat dan ruang kami singgahi. Rasanya kami seperti memasuki mesin waktu, kembali ke masa lalu. Masa yang pernah dialami oleh leluhur.

Bung Karno pernah berkata, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Siapa yang berhenti akan diseret oleh sejarah dan siapa yang menentang corak dan arahnya sejarah, tidak peduli tiada bangsa apapun, ia akan digiling, digilas oleh sejarah itu sama sekali.

Waktu menunjuk pukul sebelas. Kaki dan perut kami sudah agak rewel. Perjalanan masih panjang. (bersambung)

Jogja Never Ending Love (3)

Bandara Adi Sucipto
Tiga puluh menit kami berada di Bandara Adi Sucipto. Aktivitas pagi itu sudah menggeliat meski belum ramai. Restoran cepat saji sudah banyak yang buka. Terlihat wisman sedang bersantap di sana. Di loket pembelian tiket nampak penumpang mengantri. Sementara di depan terminal kedatangan, ramai orang menawarkan jasa angkutan. Mulai dari becak, taksi, hingga penyewaan mobil.

Saya segera mengkonfirmasi hotel tempat kami akan menginap. Pihak hotel mengatakan, kamarnya sudah siap. Pembayaran dilakukan nanti jika kami sudah tiba. Cek in jam berapa saja, yang penting kami sudah konfirmasi terlebih dulu.

Hotel memang sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Hal ini untuk memudahkan perjalanan. Kalau tidak salah waktu itu hari Jum’at. Hari Selasa saya baru mendapat kepastian kamar. Lima hari waktu yang cukup lama.

Dari pusat informasi bandara, kami memperoleh alamat travel. Lokasinya masih di dalam bandara, dekat pintu keluar yang kami lewati tadi. Di sana hanya ada satu pegawai, seorang wanita berambut sebahu, cukup ramah melayani kami.

“Mbak, paket travel keliling Jogja berapa ya” tanya saya membuka obrolan.
“Lima ratus ribu mas, untuk sepuluh jam. Sudah termasuk bensin, parkir dan sopir” jawab mbaknya.
“Itu per orang atau gimana mbak” tanya saya.
“Untuk sewa mobil mas. Bisa satu orang, dua orang, atau rombongan. Mas tinggal bayar tiket masuk ke lokasi wisata saja. Paling hanya lima ribuan. Mobilnya innova. Kalau panjenengan mau, mobilnya saya siapkan sekarang. Untuk berapa rombongan mas?” tanya mbaknya.
“Berdua saja mbak, saya dan istri. Terus, tujuannya nanti kemana saja ya mbak” tanya saya lagi.
“Biasanya paling jauh Borobudur, Prambanan, lalu city tour. Tapi terserah panjenengan saja. Maunya kemana, nanti biar diantar” jawab mbaknya dengan gamblang.

Kira-kira seperti itulah isi dialog saya dengan mbak pegawai travel.

Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan tawaran mbaknya. Dengan 500 ribu, mobil innova hitam yang di piloti oleh pak Kirno siap mengantar kami. Di kuitansi tertulis 08:00 hingga 18:00. Saat itu jarum panjang jam menunjuk angka sebelas dan jarum pendek menunjuk angka delapan.

Setelah urusan administrasi selesai, mobil itupun lepas landas meninggalkan bandara. Jalanan di Jogja sangat lengang. Tidak semrawut, ruwet dan njlimet seperti ibu kota. Enak sekali. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur. (bersambung)

Jogja Never Ending Love (2)

Penerbangan GA 202
Penerbangan dari Cengkareng ke Adi Sucipto membutuhkan waktu sekitar 43 menit. Gumpalan awan putih menemani kami sepanjang perjalanan. Komposisinya membentuk lautan busa yang menutup penglihatan ke daratan.

Tak lama setelah kami lepas landas, saat pesawat dalam kondisi normal derajad kemiringannya, pramugari membagikan permen Fox’s. Setelah itu ia menyuguhkan teh atau kopi. Serangkaian pelayanan ini diakhiri dengan pembagian aneka jus (jeruk, mangga, apel) dan satu kotak kue.

Ketika mencapai puncak ketinggian terbang, langit terlihat cerah. Sinar Matahari menerobos ke dalam pesawat melalui jendela. Pancaran cahayanya menyilaukan mata. Suhu kabin menjadi sedikit hangat.

Seorang pemuda berkacamata hitam duduk di pinggir jendela di samping kami. Posisi kursi yang ia tempati seharusnya menjadi hak kami. Nampaknya lelaki tersebut tak tahan dengan silaunya cahaya. Penutup jendela itu ia turunkan setengah untuk mengurangi intesitas cahaya yang masuk. Sepanjang perjalanan pemuda itu lebih banyak tidur. Waktu pramugari membagi makanan atau minuman ia bergeming.

Kami duduk di kursi bernomor 21 A dan B. Jika melihat ke arah luar, posisi kami berada di belakang sayap. Saya bisa melihat jelas pergerakan mekanis sayap mulai dari lepas landas hingga proses pendaratan.

Di depan kami terselip sebuah katalog. Saya buka lembar demi lembar buku tersebut dari belakang. Di halaman sekian mata saya tertuju pada sebuah miniatur pesawat Garuda Indonesia berbandrol 50 ribu. Rasa penasaran menuntun saya bertanya kepada pramugari yang rapi dan wangi itu.

Kira-kira beginilah isi dialog antara saya dan mbak pramugari :
“Mbak, dimana saya bisa mendapatkan barang ini ya” saya membuka obrolan.
“Barangnya gak naik Pak” jawab si mbak ramah.
“Maksudnya Mbak” tanya saya penasaran.
“Barang tersebut khusus untuk penerbangan yang lebih dari satu jam saja Pak” si mbak menjelaskan.
“Misalnya, untuk penerbangan ke Menado gitu ya” tanya saya lagi untuk meyakinkan diri.
“Betul Pak” jawabnya ringkas.
“Oooo…” saya mengangguk bingung sambil menyisakan rasa pengen di dalam hati. Si mbak pramugari melangkah pergi melanjutkan tugasnya.

Berdasarkan pengalaman terbang saya selama ini, belum pernah sekalipun saya melihat bentuk toilet pesawat itu seperti apa. Maklum jam terbangnya masih dalam negeri saja. Kebetulan juga, saya tidak pernah kebelet jika pas mengudara. Namun entah kenapa, kali ini rasa penasaran kembali menuntun saya untuk mengetahui isi toilet pesawat.

Ternyata kamar kecil itu benar-benar kecil. Bentuknya mirip seperti lemari berdiri dan cukup untuk satu orang saja. Dimensinya kira-kira panjang 1 m, lebar 1,5 m dan tingginya 2 m. Di dinding sebelah kanan dari pintu masuk terpasang sebuah kaca dan wastafel. Di bawah wastafel tersebut diletakkan tempat sampah mini yang berbentuk kotak dengan penutup memutar. Kebersihannya memang terjaga. Sabun, tisu, dan airnya berfungsi dengan baik. Tidak seimbang jika kita bandingkan dengan toilet kereta api.

Bersamaan dengan saya keluar dari toilet, terdengar suara dari kokpit memberi informasi bahwa sebentar lagi pesawat mendarat. Saya lekas ke tempat duduk untuk memasang sabuk pengaman.

Sekitar pukul 07:15 kami sudah mendarat di Bandara Adi Sucipto. Kami turun lewat pintu belakang. Hal pertama yang kami lakukan setelah menginjakkan kaki di tanah Jogja adalah berfoto menggunakan telepon genggam. Kondisi cuaca pagi itu panas. Jika dibandingkan Jakarta, Jogja terasa lebih dulu siang. Selamat Datang Jogja. (bersambung)

Jogja Never Ending Love (1)

Yogyakarta atau Jogja atau Yogjo adalah samimawon alias podho ae. Semua nama tersebut mengarah ke satu kota yang di dalamnya terdapat Kesultanan Mataram, salah satu kerajaan Jawa yang masih gagah berdiri sampai sekarang. Disana juga ada jalan Malioboro yang tersohor sampai ke penjuru dunia.

Jogja memang memiliki segudang keindahan, banyak cinta, banyak ceria dan banyak cerita. Kota pelajar tersebut juga menjadi kota budaya Jawa yang sangat kental. Sejak dulu, ketika saya masih sekolah dasar, kekaguman saya terhadap kota ini sudah tumbuh.

Rabu 30 Juli 2008 bersamaan dengan hari Isra Mi’raj saya mendapat kesempatan berkunjung ke Jogja untuk kesekian kalinya. Jika dulu biasanya saya ke sana sendiri atau bersama teman tapi kali ini tidak dua-duanya. Saya ke sana dengan istri saya.

Penerbangan pertama Garuda Indonesia dari bandara Soekarno Hatta ke Adi Sucipto pukul 06:10. Pukul 05:00 kami sudah harus boarding di Cengkareng. Sementara bus dari stasiun Gambir ke bandara berangkat pukul 04:00. Untuk itu, kami harus ikhlas bangun pukul 03:00 untuk mengejar waktu yang arogan.

Dari Rumah ke Gambir
Pukul 03:30 kami diantar oleh anaknya pak Dhe (penjaga kos saya dulu) ke stasiun Gambir. Malam sebelum keberangkatan, saya sudah ngomong sama pak Dhe minta diantar ke Gambir pukul 03:30. Pak Dhe tidak bisa karena harus jaga kos sampai selepas subuh. Nanti biar anaknya saja yang akan mengantar kami.

Kebaikan, kejujuran dan pengabdian pak Dhe ini luar biasa. Saya kagum sekali dengan beliau. Dulu pernah terlintas pikiran jika kelak saya punya perusahaan, pak Dhe akan saya jadikan pegawai dengan gaji besar, Amin. Lain waktu akan saya ceritakan tentang beliau.

Pukul 03:45 kami sudah berada di atas bus Damri di stasiun Gambir. Jumlah penumpang sudah puluhan, bahkan hampir memenuhi kapasitas bus. Sepagi buta begini, ternyata banyak juga orang yang akan beraktivitas dan memanfaatkan armada ini. Apakah kita masih percaya bahwa orang Indonesia itu pemalas?

Sekitar 15 menit kemudian bus mulai meninggalkan Gambir. Suara mesinnya terdengar pelan membelah jalanan ibu kota. Udara di luar yang sangat dingin ditambah hembusan AC, cukup membekukan tubuh kami yang tanpa jaket.

Sampai di depan Pasar Baru, terdengar suara kondektur “Siapkan uang pas 20 ribu”.

Selama dalam perjalanan menuju bandara, mata saya terasa berat. Ngantuk banget. Berkali-kali saya memejamkan mata, namun tak kunjung tidur juga. Hati rupanya sedang tidak mau diajak kompromi.

Saya lupa pukul berapa tiba di Cengkareng. Yang jelas belum ada pukul 05:00.

Cengkareng di Waktu Subuh
Turun dari bus kami langsung bergegas masuk terminal 2F untuk boarding. “Lebih dini lebih baik. Kalau sudah boarding baru lega. Bisa puas jalan-jalan menikmati keindahan sekitar bandara yang terkenal dengan taman tropisnya itu” pikir saya.

Kami hanya membawa tas Eiger dan tas Elizabeth. Rencananya kedua tas tersebut saya bawa masuk ke kabin, agar tiba di Jogja kami bisa langsung ngacir ndak perlu menunggu bagasi. Namun karena di dalam tas kami ada parfum yang >100 ml maka ransel saya ikutkan ke bagasi. Hal ini untuk mencegah terjadinya karut marut nanti di pintu Gate.

Selesai boarding , kami mencari makanan atau minuman. Warung A Mild yang terletak di pojok dari arah kami boarding menjadi pilihan. Secangkir kopi kapal api seharga 10 ribu dan sebatang 234 cukup membuat mata saya terbelalak.

Aktivitas di terminal ini memang belum ramai. Sebagian toko sudah buka, banyak yang masih tutup. Bandara sekitar pukul 05:00 dengan suasana tenang, hari yang masih gelap dan temaramnya lampu menghadirkan keindahan tersendiri.

Sekitar pukul 05:30 kami sudah berada di ruang tunggu. TV LCD Samsung yang menyiarkan animal planet mencoba menghibur kami dari rasa bosan. Penumpang sudah hampir memenuhi ruang tunggu tersebut. Dari ruang tunggu ini kita bisa melihat pesawat yang akan diterbangkan.

Pesawat Garuda Indonesia dengan nomer penerbangan GA 202 nampak disiapkan. Terlihat aktivitas kru mengecek pesawat, memasukkan barang ke bagasi, hingga memasang belalai gajah.

Sekitar pukul 06:15 terdengar suara dari TOA yang memberi informasi bahwa penumpang dengan nomor penerbangan GA 202 tujuan Yogyakarta dipersilahkan naik ke dalam pesawat. Penumpang yang tertidur langsung bangun, nampak keceriaan di wajah mereka.

Penerbangan pagi ini penuh, hanya kelas bisnis yang masih menyisakan banyak bangku kosong. Selamat Tinggal Jakarta. (bersambung)

Mohon Doa Restu

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Perkenankan Kami : Dwi Prasetyo Sasongko & Heny Indriyana

mengundang teman-teman Wikusama untuk hadir ke acara Resepsi Pernikahan Kami.

Resepsi akan dilaksanakan pada :

Hari : Minggu Legi, 27 Juli 2008
Jam : 11:00 – 13:00 WIB
Alamat : Aula Masjid Akbar Kemayoran – Jakarta Pusat

Atas doa dan restunya Kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Website : http://duhey.okedeh.com/

Parpol Pemilu 2009

Saatnya Hati Nurani yang bicara. Apakah mereka yang diberi Amanat Nasional mampu membangun Demokrasi Indonesia Perjuangan, Kedaulatan, Keadilan dan Persatuan Indonesia.

Zamannya Kebangkitan Bangsa ataukah Kebangkitan Nasional Ulama sekarang ini, saya tidak tahu. Telah tiba waktunya bagi Pemuda Indonesia, Pengusaha dan Pekerja Indonesia yang Patriot merapatkan Barisan Nasional untuk menunjukkan Karya Peduli Bangsa.

Persatuan Daerah menjadi Gerakan Indonesia Raya untuk menuju Perjuangan Indonesia Baru yang Damai Sejahtera, Peduli Rakyat Nasional dan menjadi Penegak Demokrasi Indonesia.

Pelopor Golongan Karya bak Matahari Bangsa untuk Persatuan Pembangunan. Demokrasi Kebangsaan dengan Karya Perjuangan Nasional Indonesia Marhaenisme harus menjadi Demokrasi Pembaruan Republika Nusantara menuju Indonesia Sejahtera.

Seperti Bulan Bintang, Keadilan Sejahtera dapat tercipta dengan Kasih Demokrasi Indonesia. Para Demokrat adalah Bintang Reformasi Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia.

***

Senin, 7 Juli 2008 jalan Imam Bonjol 29 Jakarta Pusat itu terlihat ramai. Lalu lintas yang mengarah ke Hotel Indonesia dari jalan Diponegoro macet sekitar pukul 19:00. Mobil satelit beberapa media TV terlihat berkerumun di gedung KPU. Nampak pula beberapa polisi yang berjaga-jaga dan melancarkan arus lalu lintas di area tersebut tidak seperti biasanya. Jumlah mereka malam itu lebih banyak.

Perjalanan saya dari menteng ke arah mampang ramai lancar. Saya baru ngeh, kalau malam itu KPU sedang mengumumkan partai yang lulus verifikasi faktual untuk mengikuti pemilu 2009.

Sesampainya di apartemen kos-kosan, seperti biasa saya nyalakan layar kotak itu. Kejadian di Gedung KPU tadi saya lanjut mengikutinya di layar tersebut. Sekitar pukul 21:30 Ketua KPU, Prof. Dr. H.A. Hafiz Anshary AZ membacakan 18 partai yang lulus verifikasi administrasi dan faktual.

Ditambahkan dengan partai yang sudah ada, total partai politik yang akan ikut pemilu 2009 nanti berjumlah 34. Jumlah ini dibawah rekor pemilu 1999 dan diatas pemilu 2004. Sekedar mengingatkan kembali, jumlah parpol pada pemilu 1999 dan 2004 kemarin adalah 48 dan 24. Bisa sampeyan bayangkan sendiri dari sekarang, kira-kira sebesar apakah kartu pemilu 2009 ini nanti.

Rabu, 9 Juli 2009 para ketua partai atau perwakilannya yang sudah dinyatakan lulus oleh KPU tersebut mengambil undian untuk menentukan nomor urut partai.

Berikut adalah nomor urut partai pada pemilu 2009 nanti :

1. Partai Hati Nurani Rakyat
2. Partai Karya Peduli Bangsa
3. Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia
4. Partai Peduli Rakyat Nasional.
5. Partai Gerakan Indonesia Raya
6. Partai Barisan Nasional
7. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia
8. Partai Keadilan Sejahtera
9. Partai Amanat Nasional
10. Partai Perjuangan Indonesia Baru
11. Partai Kedaulatan
12. Partai Persatuan Daerah
13. Partai Kebangkitan Bangsa
14. Partai Pemuda Indonesia
15. Partai Nasional Indonesia Marhaenisme
16. Partai Demokrasi Pembaruan
17. Partai Karya Perjuangan
18. Partai Matahari Bangsa
19. Partai Penegak Demokrasi Indonesia
20. Partai Demokrasi Kebangsaan
21. Partai Republika Nusantara
22. Partai Pelopor
23. Partai Golongan Karya
24. Partai Persatuan Pembangunan
25. Partai Damai Sejahtera
26. Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia
27. Partai Bulan Bintang
28. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
29. Partai Bintang Reformasi
30. Partai Patriot
31. Partai Demokrat
32. Partai Kasih Demokrasi Indonesia
33. Partai Indonesia Sejahtera
34. Partai Kebangkitan Nasional Ulama

Saudaraku, apakah sampeyan sudah mempunyai pilihan, kira-kira partai mana yang bakal sampeyan coblos oblos-oblos. Ataukah sampeyan justru memilih untuk tidak memilih?

Hidup adalah Perbuatan

Dulu saya mengenal ungkapan bahwa hidup adalah perjuangan. Entah dari mana asal usul ungkapan tersebut, saya tidak tahu. Dari penelusuran saya sepintas di dunia ghoib (internet) saya menemukan artikel menarik.

Ide-ide seperti “Hidup adalah perjuangan, hanya yang kuat yang menang”, dan “Jika kamu tidak mengalahkan mereka, mereka akan mengalahkanmu” berakar pada Darwinisme, semua itu pada akhirnya bertanggung jawab atas peningkatan “fasisme dalam kehidupan sehari-hari” dewasa ini di seluruh penjuru dunia. (Harun Yahya – Fasisme: Ideologi Berdarah Darwinisme)

Bukan itu yang ingin saya bicarakan. Namun ungkapan mas Soetrino Bachir di TV yang tayang sekitar dua bulan yang lalu, bersamaan dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional.

Dalam iklan tersebut dimunculkan ungkapan baru yaitu hidup adalah perbuatan. Apakah ungkapan itu adalah hasil modifikasi dari ungkapan lama yang sudah ada, yaitu hidup adalah perjuangan. Hanya mas Soetrino Bachir sendiri yang tahu.

Masyarakat Hukum Indonesia (MHI) menilai iklan tersebut tidak menunjukkan kepekaannya atas krisis yang sedang dialami sebagian besar warga Indonesia. Tidak hanya itu, MHI juga mensomasi mas Soetrisno Bachir atas iklan tersebut. Konon untuk membuat iklan seperti itu menghabiskan uang sekitar Rp 300 miliar. (Kompas)

Sejak kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya, pro kontra sepertinya hal yang lumrah di negeri ini. Kemajuan dunia pemberitaan yang cukup pesat membuat informasi cepat menyebar dan mudah diakses. Hal tersebut suka tidak suka mengakibatkan “perpecahan” di masyarakat gampang terjadi.

Tengok kenaikan BBM yang terjadi bulan lalu misalnya. Hampir setiap hari saya menyaksikan kegaduhan terjadi di masyarakat alit lewat layar kotak itu. Ada yang meributkan data BLT yang katanya pilih kasih, ada yang pingsan karena berdesak-desakan waktu pencairan dana BLT, ada pagar DPR yang dirobohkan, ada mobil dinas pemerintah yang dibakar di semanggi dan ada-ada yang lainnya.

Jika kegaduhan tersebut sampai menelusup di tengah keluarga kita akibat beda sikap dalam memihak artis yang akan bercerai misalnya, tentu sangat memprihatinkan.

Kalau sudah begini, entah kenapa saya jadi merindukan tayangan TVRI di era Orde Baru. Seperti : cerdas cermat, klompencapir, dari desa ke desa, si Unyil, ketoprak sayembara Ampak-Ampak Singelopuro, serial Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat dan aneka tayangan lainnya.

Ahh, barangkali itu hanya nafsu saya saja yang ingin bernostalgia, beromantika ke masa lalu tanpa mau mengenal kekinian yang terjadi.

Kembali ke hidup adalah perbuatan. Terlepas dari semua kontroversi yang mengikutinya, ungkapan dari mas Soetrino Bachir itu cukup sederhana, mudah dicerna dan tidak terkesan muluk-muluk.

Kalau sampeyan rajin menonton layar kotak di rumah ataupun membaca koran, sampeyan bakal sering melihat ataupun membaca konsep yang canggih-canggih. Mulai dari cara mengatasi kemiskinan, mengatur pendidikan, mengadili koruptor, mengendalikan laju inflasi, mengelola kekayaan alam, memilih pemimpin dan lain sebagainya.

Namun kenapa hal tersebut malah kontra dengan fakta yang ada, masih banyak kemiskinan, kebodohan dan korupsi. Pendek kata kenapa gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo belum terwujud. Padahal modal kita untuk kesana ada. Apanya yang salah? Jangan-jangan kita terlalu senang berkonsep dan gemar berpolemik hingga lupa berbuat.

Termasuk tulisan ini. Barangkali hanya konsep tidak jelas yang tanpa guna, malah memperkeruh suasana dan menyumbangkan kesemrawutan saja.

Hidup adalah perbuatan. Perbuatan yang harus membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Bicara perubahan hendaknya dimulai dari diri sendiri, hal terkecil dan sekarang juga.

Saudaraku, sudahkah kita berbuat baik hari ini?

Ramalan Euro 2008

Bak pepatah mbah alon-alon asal klakon, panser Jerman mulai meraung siap menggilas. Tim yang terkenal lambat panas ini memastikan satu tempat di semifinal, sejak 1996, setelah mencukur tipis Portugal 3-2 di St. Jakob Park – Basel.

Kehilangan jenderal besar Joachim Low, tidak membuat pasukan panser kocar-kacir. Di bawah komando kapten Ballack, artileri Jerman bertempur disiplin menggempur habis pertahanan Portugal. Ada yang menyebut duel ini adalah final kepagian.

Beberapa hari yang lalu mas Budiarto Shambazy menulis Portugal “negeri periferi” di barat semananjung Iberia ini kalah awu dengan Jerman. Negeri yang belum industri ini akan sukar menaklukkan Jerman. Tulisan mas Buadiarto seolah menemukan artinya sendiri di Basel semalam.

Dini hari nanti Kroasia akan berhadapan dengan Turki di Ernst Happel – Vienna. Kroasia baru memerdekan diri tahun 1991. Negeri ini adalah pecahan Yugoslavia yang pernah bersama Indonesia mendirikan non blok saat pecah perang dingin.

Meski usia Kroasia relatif masih muda namun kemampuan timnya tidak boleh dianggap remeh. Jerman pernah merasakannya setelah ditekuk 2-1 di babak penyisihan. Kroasia tentu ingin menunjukkan eksistensinya di dunia Internasional. Semangat nasionalisme yang sedang bagus tentu merupakan modal yang besar saat melawan Turki nanti.

Sementara Turki adalah negeri yang tanggung. Menjadi bangsa Asia “malu” namun mau jadi bangsa Eropa belum diakui. Meski demikian prestasi Turki dalam hal memainkan si kulit bundar juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka pernah menjadi semifinalis piala dunia di Jepang tahun 2002 lalu.

Semangat bertanding yang ngotot dari negeri tempat berakhirnya era kekhalifahan ini harus diwaspadai Kroasia. Di babak penyisihan, sempat tertinggal 2-0, tim besutan Fatih Terim ini akhirnya lolos ke babak berikutnya setelah menang dramatis 3-2 lawan Ceko.

Jalan Lain Menuju Juara
Di jalan menuju juara yang lain, lolosnya tim biru Italia akibat “belas kasihan” de Orange akan membuat perebutan tahta semakin panas. Kita sering mendengar bahwa sepakbola bagi orang Italia mempunyai nilai yang tinggi selain wanita.

Italia adalah tim yang liat dalam mengolah si kulit bundar. Strategi yang cerdas kalau tidak boleh dibilang “licik”, dengan dogma wajib menang dalam setiap pertandingan bola, membuat pasukan Azzuri ini sangat membahayakan.

Hal ini bisa menjadi bumerang bagi Belanda jika mereka harus bertemu di Semifinal. Andai itu terjadi, kekalahan telak 3-0 di babak penyisihan yang lalu tidak akan berpengaruh banyak bagi Azzuri. Benarkah, mari sama-sama kita tunggu.

Menghadapi Spanyol, Del Piero dan kawan-kawan tidak akan mengalami kesulitan besar. Spanyol adalah negeri yang segaris dengan Portugal. Jika menggunakan kacamata kalah awu, tim Matador sepertinya bakal senasib dengan CR7 dan kawan-kawan.

Di pertandingan yang lain, setelah menjadi pencabut nyawa di grup Neraka, Belanda juga bakal menang mudah saat berhadapan dengan Rusia nanti.

Hasil yang mana daripada otak-atik gathuk
Wahhh seru itu mas. Terus kira-kira prediksi sampeyan gimana, siapa yang bakal juara?

Saya nggak tahu, berdasarkan ilmu otak atik gathuk skenarionya sepertinya akan begini..

Portugal vs Jerman : 2-3
Kroasia vs Turki : Kroasia –> Fakta : Turki
Belanda vs Rusia : Belanda –> Fakta : Rusia
Spanyol vs Italia : Italia –> Fakta : Spanyol

Semifinal
Jerman vs Kroasia : Jerman –> Fakta : Jerman vs Turki
Belanda vs Italia : Italia –> Fakta : Rusia vs Spanyol

Final
Jerman vs Italia –> ???

Lho, sing final kok gak sampeyan jawab mas, kenapa. Dua-duanya kau suka gitu ya..Hehehe, bener gak..hayo ngakuuu..

Hmmm :)

Insiden Lapangan Bola

Sudah dua hari ini, dusun itu diguyur hujan. Meski kadang mendatangkan banjir, hujan juga mengubah hawa dari panas ke dingin. Sebuah metamorfosa alami yang banyak dibenci pun dirindu. Air laut yang menguap itu mendatangkan fenomena alam tersendiri.

Dalam rintik, mata Bejo nanar menatap ke langit. Aroma khas yang muncul akibat persentuhan bumi dengan air langit itu, dia nikmati sekali. Itulah salah satu yang Bejo suka dari hujan, selain bianglala.

Segelas kopi asli yang digoreng campur beras menemaninya. Tangan kanannya nampak memegang 234 yang berusaha ingin dia tinggalkan namun belum mampu. Sayup-sayup terdengar lagunya mbak Rossa mengalun pelan menelusup ke dalam relung hatinya.

desir pasir di padang tandus
segersang pemikiran hati
terkisah ku di antara cinta yang rumit

bila keyakinanku datang
kasih bukan sekadar cinta
pengorbanan cinta yang agung
ku pertaruhkan

Sudah mas, ndak baik lho nglamun terus.

Enggak kok, saya cuma bingung saja. Kenapa ya dua tokoh yang sangat dihormati di dusun ini bertengkar karena berbeda.

Maksud sampeyan insiden lapangan bola kemarin ya mas.

Betul, saya sedih. Kenapa masalah tersebut menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan meluas. Bahkan sampai melibatkan warga di dusun lainnya yang mungkin tidak tahu pangkal soalnya.

Iya mas, begitulah terkadang umat itu, mudah sekali tersulut dan terseret arus. Kenapa para sesepuh di dusun ini kurang mendinginkan suasana ya. Jangan sampai ada korban lagi, sudah cukup mas.

Sebagai umat memang saya hanya bisa bingung menyaksikan pertunjukan ini mas. Tapi sudahlah, toh semua sudah ditangani oleh aparat desa. Benar dan salahnya, kita serahkan kepada mereka saja.

Yang perlu dicatat, hindari ikut berkontribusi terhadap hal-hal yang akan memperbesar masalah tersebut. Sekecil apapun itu. Menahan diri itu bukan sikap yang jelek lho mas. Terkadang, inflasi informasi malah menambah ruwet suasana saja.

Masih ingat kan mas dengan kata-kata Pak Dhe waktu itu, “janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum, membuat kamu berlaku tidak adil”.

Mas, jangan lupa..
Mahalnya minyak di warung Bu Min, itu kehidupan kita yang lebih nyata lho..

Iya iya, tidak hanya nakal kamu juga cemerlang dek..
Tanpa terasa, lagunya mbak Rossa sudah berganti dengan lagunya mas Giring

ku berjalan terus tanpa henti
dan dia pun kini telah pergi
ku berdoa di tengah indah dunia
ku berdoa untuk dia yang kurindukan

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
berselimut di tengah dingin dunia
berselimut dengan dia yang kurindukan

Bejopun kembali sendiri..

Melamar

23 Februari 2008. Ba’da Dzuhur para utusan agung pergi ke rumahnya Adek untuk melamarnya.

Whaaaat, apa mas? Lamaran. Gak salah denger baca nich. Jangan bercanda dech. Serius mas, sumpah! Terus gimana para fansnya itu mas, patah hati donk.

Betewe kalau emang bener, aku ikut bahagia. Selamat yach Mas. Ngomong-ngomong acaranya gimana, seru gak? Bagi-bagi cerita ya, awas kalau pelit, ndak tak kasih kopi es lho entar.

:) ), begini ceritanya..

Sekitar delapan nol-nol pagi, gerimis mengguyur Jakarta. Tidak deras memang hanya rintik-rintik air yang jatuh membasahi bumi. Tetesannya seperti butiran embun yang turun menyirami Edelweiss si bunga abadi di Mahameru itu, sangat eksotis.

Jam kamar menunjuk pukul 12:15 awan. Rintik hujan yang sudah berhenti sejak pukul 10, bersambung kembali menjadi hujan angin. Terdengar teriakan : “banjir-banjir hujaaan, jemuran-jemuraaan..” dari penghuni apartemen kos lantai 27-25=x itu.

Rupanya para ibu rumah tangga sangat setia dan sigap dalam menyambut hujan dadakan. Tangan mereka cekatan, terlatih dan terampil menyaut baju, celana, sidi, sarung, lsp dari tali jemuran.

Suasana di dalam kamar itupun tak kalah gaduh. Seorang lelaki ganteng tulen terlihat komat-kamit mondar-mandir gak jelas.Ternyata dia sedang bingung saudara-saudara. Hatinya gundah gulana tak menentu terseret derasnya hujan.

“Gimana nich, deres banget” gumamnya dalam hati.

Hujan yang turun siang itu memang amat sangat deras sekali. Sampeyan bayangkan saja hujan yang paling lebat yang pernah sampeyan lihat. Ya seperti itulah kira-kira.

Awan hitam pekat menyelimuti langit. Intensitas cahaya di luar kos seperti suasana sehabis subuh, temaram cenderung gelap. Untungnya tidak bergeledek jadi suasana horor yang sudah tercipta tidak bertambah tegang.

“Mas, entar nunggu hujannya reda aja. Sampe jam berapapun ditungguin kok. Gak usah bingung ya” suara di ujung telepon genggam itu menenangkan hati lelaki tersebut. Kekalutan yang ada cair seketika bersama hilangnya suara itu.

Di ruangan indah para utusan agung sudah mempersenjatai diri siap siaga. Mereka menunggu aba-aba. Namun apa daya, cuaca di luar masih belum bersahabat.

Satu jam sudah berlalu. Deras hujan belum memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti. Para utusan agung beku dalam tunggu. Dalam kesempatan itu terjadilah musyawarah yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam kamar dan deras hujan.

Dalam rapimnas musyawarah tersebut dibahas tentang siapa yang akan menjadi ketua utusan agung, terus bahasa apa yang akan digunakan, susunan acaranya seperti apa.

Setelah terjadi mufakat tanpa voting, disepakati bersama bahwa Pak Dhe ditetapkan sebagai ketua. Ketua ini bertugas sebagai wakil keluarga. Bahasa yang akan digunakan nanti adalah bahasa Jawa. Dan susunan acaranya seperti biasa(dijelaskan di bab tambahan) ditambah acara perkenalan keluarga besar.

“Mas, hujannya udah reda. Cepetan berangkat! Nunggu di rumah Bu Dhe saja. Takut entar deras lagi” suara di ujung telepon genggam itu memberi petunjuk. Jam dinding waktu itu sekitar pukul 14 kurang 15 menit.

Sekali terdengar kata berangkat, berangkatlah defile itu dengan langkah tegap maju. Tikungan demi tikungan mereka lewati dengan semangat ndredek 98.

Pada tikungan keempat terdapat kejadian unik. Di sebuah gang terdapat rumah warga yang sedang melangsungkan hajatan pernikahan. Saat akan melintasi gang tersebut, perwira defile sudah bertanya kepada penjaga setempat. Apakah defile ini bisa lewat? Orang itu menjawab bisa.

Melihat rumah tersebut, defile yang berada di baris belakang bertanya apakah itu sasaran kita. Perwira menjawab bukan. Kita hanya numpang lewat. Sudah minta izin.

Entah apa yang terdengar. Saat melewati rumah itu, defile di baris belakang lha kok ujug-ujug mampir ke rumah tersebut. Lalu mereka bersalaman ria dengan para penerima tamu.

Kok perwira defile ndak berhenti alias jalan terus? Wah kita salah ni. Barangkali begitu pikir mereka (sambil mesem-mesem maluw gitu dech, hihihi :) )). Bagaimana pikiran penerima tamu itu, kekel dan bingung campur heran kali hehehe :p.

Beberapa meter sebelum tiba di sasaran, perwira memberikan kabar kedatangan. Tak lama setelah sinyal tersebut diterimanya, dikirimlah telik sandhi utusan untuk menyambut rombongan utusan agung itu.

Para utusan agung tidak langsung menuju sasaran. Utusan yang dikirim membawa mereka ke rumah Bu Dhenya Adek. Di sana kedatangan para utusan agung disambut dengan marching band sangat ramah.

Kenapa harus mampir dulu ke rumah Bu Dhenya Mas, kok gak langsung ke rumahnya saja.

Karena serah-serahan yang akan dibawa dan sudah disiapkan sejak semalam dititipkan di sana. Menurut juklak dan protap yang ditentukan sebelumnya, SOPnya memang dibuat begitu. Biar para utusan agung tidak terlalu repot. Jadi sejak berangkat dari mabes kos tadi, para utusan agung itu hanya lenggang kangkung saja, gak membawa arteleri.

Serah-serahan itu apa sih mas?

Serah-serahan itu adalah barang bawaan yang akan diberikan kepada pihak perempuan oleh pihak lelaki yang akan melamar. Maknanya sebagai tanda keseriusan. Isinya macam-macam bergantung individu masing-masing.

Ada seperangkat alat sholat, seperangkat alat mandi, seperangkat alat kecantikan, seperangkat alat tidur (lingerie dkk), pakaian plus aksesorisnya, aneka buah-buahan (buah beneran lho ya), aneka kue termasuk jadah dan jenang (biar lengket), lsp.

Teman saya waktu itu membawa kasur spring bed edisi nyar, bahkan teman saya yang satunya lagi membawa mobil sedan gress untuk serah-serahan. Gimana itu mas, boleh apa enggak.

Lha dalah, yo sampean tanyakan kepada perempuannya to. Mau menerimanya apa enggak. Kalau mau ya sah-sah saja. Kalau ndak mau, kasihkan saya saja. Emang ada ya perempuan yang ndak mau dapet mobil sedan gress, hayo angkat tangan :) .

Kira-kira 15 menit para utusan agung di rumah Bu Dhe, datang petunjuk kalau para utusan agung dipersilahkan menuju ke sasaran. Jarak rumah Bu Dhenya Adek dengan lokasi utama hanya 25 m. Serah-serahan yang segudang tadi dibawa rame-rame oleh sepupunya Adek.

Diiringi mars maju tak gentar, para utusan agung yang dikawal sepupunya Adek di belakangnya dengan membawa serah-serahan dan panji-panji kebesaran mulai memasuki rumah itu.

“Assalamu’alaikum..”. Terus…???

Terus gimana mas? Apa yang terjadi kemudian, lanjut donk..

« Newer Posts - Older Posts »