Pilih Parpol Calon Presiden?
Mar 20th, 2009 by Mase Dewe
Pemilu raya semakin dekat, 20 hari lagi. Kampanye terbuka sudah dimulai sejak (16/3). Detak-detak demokrasi kian terasa menembus sekat-sekat sosial.
Di berbagai wilayah NKRI, Indonesia diguncang dengan orasi dan dangdut. Pemandangan sedikit ganjil terlihat di Riau, Kamis (18/03). Di mana dangdut panggung di lapangan terbuka, dihadiri oleh ribuan massa berkerudung. Massa yang biasanya menggetarkan tempat ibadah dengan zikirnya. Massa yang terkenal dengan lantang menyerukan pembelaan terhadap Palestina. Negeri di awan nun jauh di awang-awang tapi masih saudara.
Menyaksikan ini, saya jadi teringat dengan kawan saya yang berkerudung juga. Saat itu ia main ke Hardrock Cafe untuk menghadiri launching salah satu produk telekomunikasi, sekitar tahun 2000 an awal. Dia tidak mabuk memang. Tapi kehadirannya di cafe yang erat dengan citra dugemnya sulit untuk tidak menimbulkan syak wasangka.
Dari dua fenomena di atas, saya melihat ada benang merahnya. Dunia politik dan bisnis ternyata dapat menyublimkan keyakinan seseorang. Perbuatan yang sebelumnya dianggap tabu bisa menjadi lumrah di atas nama kepentingan.
Sobat..
Pesta demokrasi tanggal 9 April mendatang berbeda dengan sebelumnya. Tidak hanya hal teknis antara coblos dan contreng tapi juga esensinya. Kali ini, kita memilih langsung wakil kita. Jika dulu keterwakilan kita ditentukan oleh partai, sekarang suara kita diberikan 100 persen langsung.
Ketika Irak “dihukum” karena isu senjata pemusnah masalnya, banyak orang mengatakan bahwa kehancuran negeri 1001 malam itu karena kesalahan Presiden Amerika George W Bush. Hal ini berarti juga kesalahan rakyat Amerika yang memilih George W Bush menjadi Presiden.
Oleh karena itu, di era demokrasi langsung ini, suara kita punya peran yang besar untuk menentukan merah putihnya negeri ini.
Sobat, untuk membangun pemerintahan yang solid dan kuat dibutuhkan dukungan politik yang mantab. Dukungan politik ini penting dan perlu agar supaya Presiden bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Bisa anda bayangkan jika kebijakan Presiden kemudian ditolak oleh para pembantunya (Gubernur, Bupati, lsp). Bisa bubar tatanan negara ini.
Dukungan Politik itu salah satunya lewat parlemen yang wakilnya akan kita pilih langsung nanti. Jadi idealnya, jika kita milih calon presiden A, partainya A juga harus kita pilih.
Oleh karena itu, hemat saya, partai politik mulai sekarang harus menampilkan siapa figur calon presiden yang bakal diusungnya. Perkara capres tersebut kemudian punya elektabiltas atau tidak ini soal belakang. Yang penting rakyat tidak memilih kucing dalam karung dan mendapat pelajaran politik yang pas.
Jika partai hanya mengedapankan kursi (kekuasaan) maka sulit buat negeri ini untuk membangun dengan demokrasi yang kian terbuka ini. Bukankah stabiltas itu diperlukan untuk keberlangsungan pembangunan.
Sejarah telah mencatat, di era terpimpin (BK dan HMS) kita bisa bersatu dan membangun bangsa. Indonesia saat itu bukanlah sekedar deretan pulau yang berjajar antara Sabang dan Merauke. Tetapi Indonesia adalah gema baru yang menggetarkan Asia, hingga dunia.
Gimana sobat, siapa pilihan anda?