Kapan Kehidupan Dimulai
Feb 16th, 2009 by Mase Dewe
“Banyak berdoa pak. Minta sama Allah agar dikasih roh yang terbaik. Roh yang soleh soleha, yang bawaannya selalu ingin dekat dengan Allah. Yang banyak rezekinya, bisa menyenangkan kedua orang tuanya dan orang banyak.” Begitulah nasihat pak dokter itu di masa-masa kehamilan awal pasiennya.
Roh adalah salah satu teka-teki dalam kehidupan ini. Roh baik membuat manusia baik. Roh jahat membuat manusia jahat. Ia bisa membuat manusia mulia melebihi malaikat. Di lain hal, ia juga bisa membuat manusia hina melebihi binatang.
Sebenarnya, sejak kapankah kehidupan itu dimulai?
Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, Rosulullah saw bersabda : “Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi alaqoh (segumpal darah) selama waktu itu juga (40 hari), kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama waktu itu juga (40 hari), lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan roh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Dari hadist di atas kita dapat belajar banyak hal. Pelajaran pertama yang bisa kita petik yaitu tentang awalnya kehidupan. Janin baru mempunyai roh setelah berusia 120 hari. Pada saat itu berarti kehidupan seorang manusia telah dimulai. Inilah yang kemudian disebut dengan kehidupan alam rahim.
Apakah ada yang masih ingat ketika kita ada di alam rahim?
Pelajaran kedua tentang proses penciptaan manusia. Dalam masa penciptaannya, ada tiga tahap yang harus dilalui. Yaitu : 40 hari pertama berbentuk air mani (nutfah), 40 hari kedua menjadi segumpal darah (alaqoh), dan 40 hari ketiga menjadi segumpal daging (mudhghoh). Dari sinilah kemudian janin itu berkembang hingga menjadi bayi.
Pelajaran ketiga tentang takdir Allah. Di dalam rahim, setelah berusia 120 hari, Allah menulis takdir manusia melalui perantara Malaikat. Takdir yang dimaksud di sini meliputi empat perkara, yaitu : rezeki, ajal, amal dan nasib (celaka atau beruntung). Semua itu terjadi ketika manusia masih di dalam rahim ibunya.
“Gimana dok, apakah sudah ada rohnya?” tanya pasien itu ketika kunjungan yang kesekian kalinya.
“Sudah pak. Sekarang usianya sudah 17 Minggu. Kalau bapak mau syukuran (slametan), silahkan” kata dokter.
Setelah kehamilan menginjak usia empat bulan, masyarakat Jawa yang memegang tradisi biasanya mengadakan acara slametan. Acara ini sebagai wujud rasa syukur bahwa janin yang dikandung oleh sang istri telah diberikan roh oleh Allah SWT.
Ada pertanyaan yang layak dimunculkan. Sebelum roh itu ditiupkan ke dalam janin, di manakah roh itu berada? Bagaimanakah cara Allah menentukan bahwa janin A diberi roh A. Ada yang tahu jawabnya?
-dPs-