Jogja Never Ending Love (7)
Jan 28th, 2009 by Mase Dewe
Tujuan terakhir kami adalah candi Borobudur. Candi Budha terbesar yang pernah dibangun di atas bumi ini. Sebuah warisan leluhur yang mendapat pengakuan di jagad Internasional.
Dalam sebuah acara di TV pak Siswono Yudho Husodo pernah berkata, dulu ketika candi Borobudur dibangun, teknologi yang digunakan adalah teknologi yang terhebat pada zamannya. Ini adalah bukti bahwa pada saat itu Nusantara sudah mempunyai peradaban yang tinggi. Kini bangsa kita sudah maju tapi bangsa lain juga maju lebih cepat. Untuk itu kita harus mengejar ketertinggalan itu dengan berlari lebih kencang. Pesan pak Sis di acara yang sama.
Berhubung tenaga kami tinggal sisa-sisa, acara ke Borobudur ini sengaja kami cancel.
Dari Prambanan kami langsung menuju hotel. Lokasinya tidak jauh dari Tugu yang terkenal itu. Banyak penginapan di kota pelajar ini. Jika sampean melancong ke sini usahakan cari penginapan yang dekat dengan kota. Kenapa? Karena kalau sampean pengen mlaku-mlaku sak wayah-wayah, tinggal mlaku ae. Gak repot, lebih sehat dan ekonomis. Paling cuma ngganjel di kaki saja
. Tapi ndak papa, efek itu akan hilang sendiri jika hati anda riang gumbira.
Di depan lobi itu, kami berpisah dengan pak Kirno. Orang yang mengantar kami berkeliling selama ini. Orang yang memberi petunjuk sekaligus kamus bagi kami. Keramahan, kesederhanaan, kejujuran dan tingkahnya yang tertata membuat saya belajar banyak hal. Sedih rasanya.
Bukan perpisahan yang harus disesali tapi sebuah perjumpaan. Kenapa perjumpaan itu meski ada jika akhirnya harus berpisah. Terima kasih pak Kirno. Semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu kembali dalam suasana yang lebih indah.
Matahari hampir hilang di ufuk Barat. Sinarnya yang terang perlahan mulai disaingi nyala lampu. Di jeda pergantian waktu seperti ini, sering saya saksikan keindahan alam. Langit yang kekuningan, temaramnya suasana, aktivitas manusia, semuanya seolah terbawa masuk ke ujung hari. Seperti ada yang hilang dan diganti. Benar-benar sebuah lukisan Tuhan Yang Maha Dahsyat.
Sehabis mandi dan leyeh-leyeh, naluri mlancong kami tumbuh kembali. Suasana Jogja di waktu malam sepertinya sulit untuk kami lewatkan.
Keliling Naik Becak
Di depan penginapan, banyak becak yang mangkal. Bagaimana rasanya keliling Jogja sambil naik becak, saya ndak tahu. Ha wong ini juga baru mau nyoba.
Setelah ngobrol dengan salah satu tukang becak, kami mendapatkan pencerahan. Ternyata tarif becak untuk keliling Jogja cuma dan hanya dua puluh ribu saja. Ya, sampean memang tidak sedang salah baca. Dengan uang selembar itu, sampean sudah diantar ke UGD (Unit Gawat Dagadu) Pakuningratan, Keraton, toko-toko batik di sebelah Barat Keraton, Benteng Vredenburg, Malioboro, pusat bakpia di daerah Pathuk, sampai kembali lagi ke penginapan.
Berapa jarak yang ditempuh, saya juga ndak tahu. Lha wong muter-muter ngalor ngidul ngetan ngulon. Yang jelas, saat becak mulai dikayuh pertama kali, jam di tangan saya menunjuk pukul 17:30. Saya baru tiba kembali di penginapan pukul 21:30. Empat jam waktu yang kami habiskan.
Jika kecepatan becak saat itu anggap saja 15 menit per km, berarti jarak yang kami tempuh adalah 16 km. Ya, ini hanya itungan kasar saja. Pada kenyataannya memang tidak sejauh itu. Wong saat kami jalan-jalan, becaknya ngetem.
Dagadu
Kami langsung ke UGD (Unit Gawat Dagadu) di Pakuningratan. Lokasinya di sebelah Utara Tugu, tidak jauh. Saya tahu tempat ini dari seorang kawan. Dulu saya cari kaos Dagadu di mall Malioboro. Karena tidak ada yang cocok, kawan saya ini mengantarkan ke UGD. Kata kawan saya, kalau mau nyari Dagadu yang lebih lengkap ya di sini tempatnya.
Dagadu boleh dipalsukan. Kaos ini juga bisa sampean temukan di lapak-lapak Malioboro. Yang asli hanya ada di tempat tertentu saja.
Jika anda ke UGD hari Rabu, pegawai akan menyapa anda dengan kata “Selamat hari Rabu. Bukan selamat Datang.” Sapaan khas yang belum berubah hingga kini.
Saat itu ada produk baru dari Dagadu. Namanya oblongpedia. Oblongpedia adalah kaos yang berisi ensiklopedia. Misalnya tentang wayang, tentara keraton, bangunan keraton, bangunan bersejarah di Jogja, dan lain-lain. Tidak hanya gambar yang ditonjolkan, lewat kaos ini sampean juga bisa belajar tentang banyak hal.
Bakpia Pathuk
Selain gudeg, kaos dan batik, Jogja juga punya jajanan khas. Namanya bakpia pathuk. Pathuk adalah nama daerah tempat jajanan itu dibikin. Bakpia pathuk punya banyak nomor. Ada bakpia pathuk 25, 35, 75, dan lainnya. Apakah nomor ini adalah nomor toko atau rumahnya? Entahlah.
Mana bakpia yang paling enak mas?
Saya tidak tahu. Saat itu saya diantar ke bakpia pathuk 25. Tokonya cukup gedhe. Banyak foto dan tanda tangan artis ibukota dipasang di sana. Sepertinya jika ada artis ibukota yang ke Jogja, mereka beli oleh-oleh di toko ini.
Tidak hanya bakpia saja yang dijual di situ. Tapi juga ada belut goreng, gula kacang, keripik tempe, brem Madiun bahkan dodol Garut. Dengan uang 150 ribu, jika sampean pinter milih, barangkali bisa dapat oleh-oleh sebanyak satu kardus mie.
Tak terasa malam sudah kian larut. Nasi bebek goreng Tugu mengakhiri perjalanan kami malam itu. Banyak buah tangan yang kami bawa ke penginapan. Ada lebih dari sepuluh kantong. Mulai dari pakaian hingga camilan.
Saran saya, jika sampean ke Jogja, cobalah naik becak. Selain tarifnya yang murah, suasana kota yang eksotis dapat sampean rasakan betul.
Sahabat, jika Perancis punya Paris, Inggris punya London, Indonesia juga punya Jogja yang tak kalah apik. Kenapa? Lha wong saya belum punya kesempatan ke Paris dan London. Jadi ya harus bangga dengan kota sendiri bukan
. Selamat melancong..(tamat).
aku punya oblongpedia 1
bagus nggak pink..
kalau bagus, kasih ke aku aja
tapi jangan kaos cewek lho ya…hahaha
numpang lewat,
Jogja,…belum begitu mengenal,
malah mau kesana februari ini rencananya..
selamat mlancong gus
ojo lali numpak becak ya
trus tak tunggu oleh2 e…
…hahaha