Jogja Never Ending Love (6)
Nov 6th, 2008 by Mase Dewe
Sekitar pukul satu kami tiba di Candi Prambanan. Siang itu Matahari sangat terik, sinarnya menyengat kulit. “Saya tunggu di parkiran ya mas, di depan situ” kata pak Kirno. Harga tiket masuk ke komplek Candi Prambanan Rp. 8000 per orang. Di dekat pintu masuk, kami membeli kacamata dan menyewa payung. Harga sewa payung Rp 2000 untuk waktu sepuasnya.
Candi Prambanan terletak di perbatasan propinsi DIY dan Jawa Tengah, kurang lebih 17 km ke arah Timur Jogja atau 53 km ke arah Barat Solo. Komplek Candi Prambanan berdiri di sebelah Timur Sungai Opak dan sekitar 200 m di Utara jalan raya Solo Jogja.
Di dalam komplek Candi Prambanan, banyak orang berjualan nasi pecel yang dibungkus daun pisang. Mereka berjualan di bawah pohon yang rindang sambil menggelar tikar. Tergoda dengan nikmatnya suasana kamipun mengicipi pecel tersebut. Satu bungkusnya Rp 5000. Makan pecel dibawah rindangnya pohon sambil melihat keindahan candi benar-benar menghadirkan kenikmatan tersendiri.
Setelah puas berlesehan ria, kami mendekati area candi. Ada tiga bangunan utama yang sangat besar, yaitu Candi Siwa, Brahma dan Wisnu. Candi Siwa adalah candi terbesar, tingginya 47 meter. Di candi ini ada empat ruangan dengan empat pintu yang menghadap empat penjuru mata angin. Di ruang sebelah Utara terdapat arca Durga Mahisasuramardhini yang sering disebut patung Loro Jonggrang.
Loro Jonggrang adalah putri Raja Baka yang cantik jelita hingga membuat Bandung Bondowoso mau membuatkan 1000 candi untuk mempersuntingnya. Kisah Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang adalah legenda dramatis yang tak kalah apik dengan Romeo dan Juliet karya William Shakespeare itu.
Gempa pada 27 Mei 2006 telah merusak beberapa bangunan candi. Batu-batu bagian atas candi yang jatuh terkesan dibiarkan begitu saja sehingga masih tergeletak di tanah. Untuk mengamankan lokasi wisata, dipasanglah pagar pembatas. Pagar tersebut membatasi lokasi mana yang boleh dikunjungi dan yang tidak. Selain itu pagar tersebut juga berfungsi untuk menuntun arah kunjungan.
Candi Siwa dan Brahma tidak boleh dimasuki pengunjung. Hal ini mungkin untuk alasan keamanan. Hanya Candi Wisnu yang boleh dinaiki. Itupun dibatasi maksimal 30 orang yang diizinkan berada di atas candi secara bersamaan. Ada penjaga yang memantaunya. Saat saya mendapat kesempatan naik, sempat juga terlintas rasa cemas, takut kalau-kalau candinya roboh.
Setelah dari komplek Candi Prambanan (Siwa, Brahma, Wisnu) kami menuju ke arah Utara. Di sana ada musium arkeologi dan audio visual. Selain itu juga ada Candi Sewu, Bubrah dan Lumbung. Di tengah perjalanan saya membeli miniatur Candi Prambanan seharga Rp 10.000. Untuk mengitari komplek Candi Prambanan seluas 39,8 hektar di bawah teriknya mentari, dibutuhkan stamina yang joss markojos. Kalau tekad anda kurang bulat, saya jamin tak akan sanggup.
Masuk musium arkeologi gratis sedangkan bayar Rp. 5000 per orang jika ke musium audio visual. Musium audio visual adalah bioskop mini yang memutar film tentang Candi Prambanan. Filmnya menceritakan struktur candi, kisah Ramayana yang ada di relief candi, dan lain-lain. Durasi film kurang lebih 45 menit.
AC di dalam musium audio visual sangat dingin. Setelah berpanas-panas ria dengan kaki pegel linu nut-nutan, masuk kedalam musium ini enak banget. Badan terasa rileks. Sayapun sempat tertidur. Rasa capek yang bercampur dengan enak membuat tubuh saya beristirahat spontan.
Setelah rasa capek berkurang kamipun melanjutkan perjalanan ke Candi Lumbung, Bubrah dan Sewu. Untuk menuju kesana kami naik kereta mini. Harga tiketnya Rp. 5000 per orang. Saat tiba di Candi Sewu, kereta berhenti sekitar 5 menitan, memberi kesempatan pengunjung berfoto-foto.
Tadinya saya malas turun dari kereta. Tapi karena dulu waktu ke Prambanan, Candi Sewu belum sempat saya kunjungi, akhirnya turun juga dech. Sayangkan jika jauh-jauh kesini enggak merasakan auranya Candi Sewu. Candi Sewu ini letaknya paling jauh. Habis dari Candi Sewu kereta mini lalu balik arah menuju pintu keluar komplek Candi Prambanan.
Setelah keluar dari area Candi Prambanan, ada petugas yang meminta payung yang kami sewa tadi. Di sepanjang jalan keluar ini banyak kios souvenir. Ada kaos, gelang, kalung, kacamata, gantungan kunci, batik, miniatur candi, miniatur sepeda onthel, dan aneka pernak-pernik lainnya.
Komplek Candi Prambanan ini dipugar terakhir di zaman Presiden Soeharto. Jelas saat itu kondisi candinya masih sangat bagus. Selain itu fasilitas umumnya juga tertata rapi dan bersih. Tak heran jika saat itu daya tariknya sangat luar biasa. Banyak wisman ataupun wisdom yang berkunjung. Kini kondisinya saya rasakan jauh berbeda.
Memang tidak mudah merawat warisan budaya seperti ini. Selain niat juga dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Alangkah sayangnya jika mahakarya budaya nenek moyang ini lapuk begitu saja oleh zaman. Bukankah kemajuan peradaban sebuah bangsa bisa diukur dari sejarah yang ditinggalkannya.
Tak terasa dua jam lebih kami berada di Candi Prambanan. Saat itu jam menunjuk pukul 3:25. Pak Kirno menghampiri kami, matanya terlihat merah. Sepertinya beliau baru saja bangun tidur. Suhu udara yang panas memang enak buat leyeh-leyeh. (bersambung)
wah sambungane kapan ki dirilis-e ?? suwi men rek .. hehehehe ..:D
?????? ????