Mudik Sarana Pemerataan Ekonomi
Oct 10th, 2008 by Mase Dewe
Lebaran dan mudik ibarat dua sisi mata uang bagi kaum urban di Indonesia. Satu sisi hilang akan membuat sisi yang lainnya tidak bernilai atau turun nilainya. Oleh karena itu, tak heran jika hajatan besar setiap tahun ini selalu menyedot perhatian masyarakat. Pemerintahpun bahkan sampai turun tangan langsung guna menyukseskan acara akbar ini.
Ada yang lain dengan kereta api eksekutif Gajayana yang saya naiki sewaktu mudik kemarin. Gerbong keretanya baru. Gerbong baru tersebut mempunyai desain interior yang berbeda dengan gerbong lama. Perbedaannya antara lain nampak pada bentuk toilet, tata letak kursi penumpang, kunci pintu, dan TV.
Selain itu, di gerbong baru ini terdapat tambahan fasilitas yang cukup berguna. Yaitu colokan kabel yang terpasang di bawah meja setiap penumpang. Waktu saya coba untuk ngecas HP, colokan tersebut berfungsi dengan baik. Rupanya gerbong ini sudah mengikuti hidup gaya digital masyarakat.
Tidak hanya itu, pelayanan pembagian selimut ke penumpang juga dikemas dengan cara lain. Tidak seperti biasanya, selimut yang dibagikan kali ini dibungkus dengan plastik. Jelas hal ini membuat kebersihannya lebih terjaga meski di sisi lain menyebabkan pemborosan.
Dari obrolan saya dengan pegawai KA saya mendapat info bahwa gerbong ini memang masih baru. Gerbong tersebut belum 100 persen jadi. Rencananya gerbong baru ini akan diluncurkan pada Desember 2008. Sehabis hajatan mudik Nasional berakhir, gerbong akan dikembalikan ke INKA untuk diselesaikan.
Bagaimana nasib pemudik dengan kereta api ekonomi. Rupanya mereka masih belum seberuntung pemudik KA eksekutif. Di stasiun Blitar ratusan orang tidak bisa terangkut KA Matarmaja dikarenakan kereta sudah penuh sesak. Nampak rasa kesal, kecewa dan sedih terpancar dari wajah mereka.
Dephub memprediksi jumlah pemudik Lebaran tahun 2008 ini mencapai sekitar 15,8 juta orang dan kalau ditambah dengan pemudik yang berkendaraan pribadi dan pemudik bersepeda motor total mencapai sekitar 26 juta orang atau mengalami peningkatan sekitar 6,08 persen dibandingkan pemudik Lebaran 2007 lalu.
Pemudik yang akan menggunakan armada angkutan umum sebanyak sekitar 15,8 juta orang, terbagi sebanyak 9 juta orang menggunakan angkutan darat, yaitu enam juta pemudik menggunakan bus umum dan tiga juta pemudik menggunakan sarana angkutan laut dan sungai (ASDP), tiga juta orang lainnya menggunakan kereta api, satu juta orang menggunakan kapal laut, dan sekitar 1,8 juta pemudik menggunakan jalur udara (pesawat udara).
“Pemudik yang menggunakan sepeda motor dan mobil pribadi mencapai sekitar 10-11 juta orang,” kata Menhub lagi.*) Antara
Berdasar data di atas, jika satu orang saja membawa uang lima ratus ribu maka akan terjadi perpindahan arus uang sebesar 13 triliun rupiah (26 juta x 500 ribu). Kemungkinan besar, uang sejumlah itu akan terserap di daerah-daerah tujuan pemudik.
Dengan demikian mudik bukan hanya sekedar hajatan akbar rakyat yang tanpa guna. Selain meneruskan tradisi sungkeman dan berkumpul dengan sanak saudara, mudik juga merupakan sarana pemerataan ekonomi.