Jogja Never Ending Love (5)
Sep 19th, 2008 by Mase Dewe
Gudeg Yu Jum Wijilan
Jalan-jalan ke Jogja enggak makan gudeg, katanya belum afdol. Kami kemudian menuju warung gudeg Yu Jum. Letaknya di daerah Wijilan, hanya beberapa menit saja dari keraton, tidak jauh. Saya tahu warung itu dari acara kuliner mak nyus di TV.
Daerah Wijilan memang terkenal dengan gudegnya. Banyak warung gudeg berdiri di sepanjang jalan. “Daerah sini, dulu cuma warung Yu Jum saja mas” kata Pak Kirno. Saya jadi paham kenapa gudeg Yu Jum tersohor. Ternyata dia adalah pelopor gudeg di Wijilan.
Warungnya tidak besar. Luasnya kurang lebih empat meter persegi. Bangunannya sederhana. Sebuah TV 21’ dipasang menghadap ke arah luar. Tidak ada bangku, makannya lesehan. Waktu kami tiba, warungnya penuh. Maklum jumlah mejanya memang tidak banyak.
Gudeg Yu Jum manis rasanya. Tewel/gori (nangka muda) warnanya coklat sekali (coklat tua). Gudeg ini adalah gudeg kering. Tidak ada kuah santannya. Ayam, sambal dan kreceknya enak banget. Ramuan bumbunya memang menggoyang lidah, mak nyus sekali.
Ada sedikit yang kurang, porsi nasinya kurang banyak. Namun hal ini tidak mengurangi mak nyusnya gudeg tersebut. Jika anda ingin merasakan gudegnya gudeg, tidak rugi mencoba gudegnya Yu Jum.
Pak Kirno tidak mau ketika saya ajak makan bareng. Sampai saya paksa, beliau tetap saja menolak. “Monggo lho Pak, sak estu. Makan di mobil nopo dibungkus” kata saya. “Mboten mas, pun to sekecak aken. Santai mawon” kata Pak Kirno. Apakah Pak Kirno sungkan atau tidak mau ngrepoti kami, entahlah.
Pak Kirno hanya minum teh hangat. Itupun beliau bayar sendiri. Inilah salah satu contoh dari sikap terukur Pak Kirno, yang kadang membuat saya tidak enak hati sendiri itu.
Matahari sudah di atas kepala, sinarnya cukup terik, jam menunjuk pukul setengah dua belas. Setelah mengisi perut, perjalanan kami lanjutkan kembali. Tujuan berikutnya adalah batik rumah. Letaknya di daerah Ngasem.
Batik Rumah
Apa itu batik rumah? Batik rumah adalah toko batik yang ada di dalam rumah. Lokasinya bercampur dengan perumahan masyarakat, bukan model ruko. Rumahnya pun sudah bergaya modern, bukan joglo.
Bangunannya terdiri dari dua lantai. Yang dijadikan toko hanya lantai satu saja. Itupun tidak luas. Sehingga jika ada dua puluh orang saja berbelanja, pastinya akan terasa sesak. Beruntung waktu kami disana, pembelinya belum ramai.
Batik yang dijual memang bagus-bagus. Selain bahan dan motifnya yang ok, garapannya juga yahut. Ada celana kolor, kaos, kemeja, blus, dan lain-lain. Harganya bervariasi, mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu, bahkan jutaan.
Kotagede dan Kerajinan Perak
“Ke keraton, makan gudeg, lihat batik sudah semuanya. Terus kemana lagi ya”, pikir saya kebingungan memilih lokasi. Maklum jalan-jalan kali ini tidak ada juklak atau juknisnya. Modalnya spontan, jadi fleksibel saja arahnya.
Dari batik rumah kami kemudian menuju Kotagede. Kota yang menjadi pusat kerajinan perak di Jogja. Saya belum pernah ke Kotagede sebelumnya. Jadi jalan-jalan kali ini merupakan perdana.
Kotagede adalah ibukota pertama kerajaan Mataram. Sebelum ditempatnya yang sekarang, kerajaan Mataram pernah berdiri di Kotagede. Di sini juga terdapat makam Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram. Jadi boleh dikatakan, Kotagede ini adalah kota tua.
Selain itu, di Kotagede juga terdapat makam Ki Ageng Mangir Wanabaya. Ki Ageng Mangir adalah musuh sekaligus menantu Panembahan Senapati. Cerita antara Panembahan Senapati, Ki Ageng Mangir dan Pambayun sepertinya tak lekang di makan zaman.
Setibanya di Kotagede, kami mengunjungi dua toko perak yang sangat besar. Sayang nama kedua toko tersebut saya lupa
.
Yang pertama adalah gedung kuno besar dan berhalaman luas. Sudah ratusan tahun usianya, klasik sekali.Gaya arsitekturnya perpaduan antara bangunan Belanda dan Jawa. Tegelnya kotak-kotak kecil masih asli sampai sekarang, belum diubah. Dulu, tegel tersebut konon akan dibuat dari uang logam yang disusun miring. Jadi bisa dibayangkan, betapa kayanya pemilik rumah tersebut.
Gedung itu dulu adalah pegadaian. Memang milik orang terkaya di Kotagede, terus dibeli oleh pemiliknya yang sekarang, dan dijadikan tempat kerajinan perak.
Sedangkan yang kedua adalah gedung yang sudah agak modern. Letaknya tidak jauh dari toko pertama. Bangunannya mirip seperti hotel dan cukup luas. Di toko ini, para pengrajin peraknya ada di bagian belakang, terpisah tapi masih menyatu dengan area komplek toko tersebut.
Disini adalah toko pada umumnya. Pembeli datang, lihat-lihat barang, dan kalau cocok tinggal bayar. Tidak ada pemandu yang menemani kami saat proses lihat-melihat.
Hal ini sangat berbeda dengan toko pertama. Pada toko pertama, begitu masuk, kami langsung ditemani pemandu. Seorang mas bukan mbak. “Sudah pernah kesini” kata masnya. “Belum” jawab saya.
Kemudian kami dibawa ke sebuah ruangan, bentuknya mirip sebuah lorong. Di sana kami bisa melihat cara membuat kerajinan perak. Selain itu kami juga dijelaskan tentang proses membuat sebuah perhiasan. Mulai dari mencampur bahan perak, membuat rangka, membuat benang perak, menganyam benang tersebut kedalam rangka, hingga menjadi sebuah perhiasan, seperti yang sering kita lihat di mall.
Untuk membuat sebuah cincin yang seperti ukiran, ternyata harus dianyam satu-satu. Anyamannya dari benang perak yang lembut sekali. Hal ini tentu membutuhkan ketekunan, ketelitian, kecermatan dan kesabaran yang luar biasa. Suatu pekerjaan yang tidak mudah dilakukan.
Sebuah cincin perak tertulis angka 925. Angka tersebut artinya kadar perak dalam cincin itu adalah 92,5 %. Ini adalah kadar tertinggi dalam sebuah perhiasan perak. Perak dengan kadar 100% itu lentur sekali, sulit untuk dibentuk. Selain angka 925, ada 825 dan seterusnya.
Perak bakar adalah perak yang diolesi oleh suatu obat hingga warnanya menjadi buram atau gosong. Perak bakar bukanlah perak yang dibakar hingga gosong. Perak bakar dan perak putih yang mengkilap itu sama saja.
Mengunjungi Kotagede selain menelusuri jejak masa lalu juga bisa menambah wawasan tentang dunia perak dan kerajinannya. Perhiasan terkadang seperti magnet. Dia menghadirkan daya tariknya sendiri. (bersambung)