Jogja Never Ending Love (3)
Aug 20th, 2008 by Mase Dewe
Bandara Adi Sucipto
Tiga puluh menit kami berada di Bandara Adi Sucipto. Aktivitas pagi itu sudah menggeliat meski belum ramai. Restoran cepat saji sudah banyak yang buka. Terlihat wisman sedang bersantap di sana. Di loket pembelian tiket nampak penumpang mengantri. Sementara di depan terminal kedatangan, ramai orang menawarkan jasa angkutan. Mulai dari becak, taksi, hingga penyewaan mobil.
Saya segera mengkonfirmasi hotel tempat kami akan menginap. Pihak hotel mengatakan, kamarnya sudah siap. Pembayaran dilakukan nanti jika kami sudah tiba. Cek in jam berapa saja, yang penting kami sudah konfirmasi terlebih dulu.
Hotel memang sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Hal ini untuk memudahkan perjalanan. Kalau tidak salah waktu itu hari Jum’at. Hari Selasa saya baru mendapat kepastian kamar. Lima hari waktu yang cukup lama.
Dari pusat informasi bandara, kami memperoleh alamat travel. Lokasinya masih di dalam bandara, dekat pintu keluar yang kami lewati tadi. Di sana hanya ada satu pegawai, seorang wanita berambut sebahu, cukup ramah melayani kami.
“Mbak, paket travel keliling Jogja berapa ya” tanya saya membuka obrolan.
“Lima ratus ribu mas, untuk sepuluh jam. Sudah termasuk bensin, parkir dan sopir” jawab mbaknya.
“Itu per orang atau gimana mbak” tanya saya.
“Untuk sewa mobil mas. Bisa satu orang, dua orang, atau rombongan. Mas tinggal bayar tiket masuk ke lokasi wisata saja. Paling hanya lima ribuan. Mobilnya innova. Kalau panjenengan mau, mobilnya saya siapkan sekarang. Untuk berapa rombongan mas?” tanya mbaknya.
“Berdua saja mbak, saya dan istri. Terus, tujuannya nanti kemana saja ya mbak” tanya saya lagi.
“Biasanya paling jauh Borobudur, Prambanan, lalu city tour. Tapi terserah panjenengan saja. Maunya kemana, nanti biar diantar” jawab mbaknya dengan gamblang.
Kira-kira seperti itulah isi dialog saya dengan mbak pegawai travel.
Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan tawaran mbaknya. Dengan 500 ribu, mobil innova hitam yang di piloti oleh pak Kirno siap mengantar kami. Di kuitansi tertulis 08:00 hingga 18:00. Saat itu jarum panjang jam menunjuk angka sebelas dan jarum pendek menunjuk angka delapan.
Setelah urusan administrasi selesai, mobil itupun lepas landas meninggalkan bandara. Jalanan di Jogja sangat lengang. Tidak semrawut, ruwet dan njlimet seperti ibu kota. Enak sekali. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur. (bersambung)