Jogja Never Ending Love (2)
Aug 15th, 2008 by Mase Dewe
Penerbangan GA 202
Penerbangan dari Cengkareng ke Adi Sucipto membutuhkan waktu sekitar 43 menit. Gumpalan awan putih menemani kami sepanjang perjalanan. Komposisinya membentuk lautan busa yang menutup penglihatan ke daratan.
Tak lama setelah kami lepas landas, saat pesawat dalam kondisi normal derajad kemiringannya, pramugari membagikan permen Fox’s. Setelah itu ia menyuguhkan teh atau kopi. Serangkaian pelayanan ini diakhiri dengan pembagian aneka jus (jeruk, mangga, apel) dan satu kotak kue.
Ketika mencapai puncak ketinggian terbang, langit terlihat cerah. Sinar Matahari menerobos ke dalam pesawat melalui jendela. Pancaran cahayanya menyilaukan mata. Suhu kabin menjadi sedikit hangat.
Seorang pemuda berkacamata hitam duduk di pinggir jendela di samping kami. Posisi kursi yang ia tempati seharusnya menjadi hak kami. Nampaknya lelaki tersebut tak tahan dengan silaunya cahaya. Penutup jendela itu ia turunkan setengah untuk mengurangi intesitas cahaya yang masuk. Sepanjang perjalanan pemuda itu lebih banyak tidur. Waktu pramugari membagi makanan atau minuman ia bergeming.
Kami duduk di kursi bernomor 21 A dan B. Jika melihat ke arah luar, posisi kami berada di belakang sayap. Saya bisa melihat jelas pergerakan mekanis sayap mulai dari lepas landas hingga proses pendaratan.
Di depan kami terselip sebuah katalog. Saya buka lembar demi lembar buku tersebut dari belakang. Di halaman sekian mata saya tertuju pada sebuah miniatur pesawat Garuda Indonesia berbandrol 50 ribu. Rasa penasaran menuntun saya bertanya kepada pramugari yang rapi dan wangi itu.
Kira-kira beginilah isi dialog antara saya dan mbak pramugari :
“Mbak, dimana saya bisa mendapatkan barang ini ya” saya membuka obrolan.
“Barangnya gak naik Pak” jawab si mbak ramah.
“Maksudnya Mbak” tanya saya penasaran.
“Barang tersebut khusus untuk penerbangan yang lebih dari satu jam saja Pak” si mbak menjelaskan.
“Misalnya, untuk penerbangan ke Menado gitu ya” tanya saya lagi untuk meyakinkan diri.
“Betul Pak” jawabnya ringkas.
“Oooo…” saya mengangguk bingung sambil menyisakan rasa pengen di dalam hati. Si mbak pramugari melangkah pergi melanjutkan tugasnya.
Berdasarkan pengalaman terbang saya selama ini, belum pernah sekalipun saya melihat bentuk toilet pesawat itu seperti apa. Maklum jam terbangnya masih dalam negeri saja. Kebetulan juga, saya tidak pernah kebelet jika pas mengudara. Namun entah kenapa, kali ini rasa penasaran kembali menuntun saya untuk mengetahui isi toilet pesawat.
Ternyata kamar kecil itu benar-benar kecil. Bentuknya mirip seperti lemari berdiri dan cukup untuk satu orang saja. Dimensinya kira-kira panjang 1 m, lebar 1,5 m dan tingginya 2 m. Di dinding sebelah kanan dari pintu masuk terpasang sebuah kaca dan wastafel. Di bawah wastafel tersebut diletakkan tempat sampah mini yang berbentuk kotak dengan penutup memutar. Kebersihannya memang terjaga. Sabun, tisu, dan airnya berfungsi dengan baik. Tidak seimbang jika kita bandingkan dengan toilet kereta api.
Bersamaan dengan saya keluar dari toilet, terdengar suara dari kokpit memberi informasi bahwa sebentar lagi pesawat mendarat. Saya lekas ke tempat duduk untuk memasang sabuk pengaman.
Sekitar pukul 07:15 kami sudah mendarat di Bandara Adi Sucipto. Kami turun lewat pintu belakang. Hal pertama yang kami lakukan setelah menginjakkan kaki di tanah Jogja adalah berfoto menggunakan telepon genggam. Kondisi cuaca pagi itu panas. Jika dibandingkan Jakarta, Jogja terasa lebih dulu siang. Selamat Datang Jogja. (bersambung)