Jogja Never Ending Love (1)
Aug 10th, 2008 by Mase Dewe
Yogyakarta atau Jogja atau Yogjo adalah samimawon alias podho ae. Semua nama tersebut mengarah ke satu kota yang di dalamnya terdapat Kesultanan Mataram, salah satu kerajaan Jawa yang masih gagah berdiri sampai sekarang. Disana juga ada jalan Malioboro yang tersohor sampai ke penjuru dunia.
Jogja memang memiliki segudang keindahan, banyak cinta, banyak ceria dan banyak cerita. Kota pelajar tersebut juga menjadi kota budaya Jawa yang sangat kental. Sejak dulu, ketika saya masih sekolah dasar, kekaguman saya terhadap kota ini sudah tumbuh.
Rabu 30 Juli 2008 bersamaan dengan hari Isra Mi’raj saya mendapat kesempatan berkunjung ke Jogja untuk kesekian kalinya. Jika dulu biasanya saya ke sana sendiri atau bersama teman tapi kali ini tidak dua-duanya. Saya ke sana dengan istri saya.
Penerbangan pertama Garuda Indonesia dari bandara Soekarno Hatta ke Adi Sucipto pukul 06:10. Pukul 05:00 kami sudah harus boarding di Cengkareng. Sementara bus dari stasiun Gambir ke bandara berangkat pukul 04:00. Untuk itu, kami harus ikhlas bangun pukul 03:00 untuk mengejar waktu yang arogan.
Dari Rumah ke Gambir
Pukul 03:30 kami diantar oleh anaknya pak Dhe (penjaga kos saya dulu) ke stasiun Gambir. Malam sebelum keberangkatan, saya sudah ngomong sama pak Dhe minta diantar ke Gambir pukul 03:30. Pak Dhe tidak bisa karena harus jaga kos sampai selepas subuh. Nanti biar anaknya saja yang akan mengantar kami.
Kebaikan, kejujuran dan pengabdian pak Dhe ini luar biasa. Saya kagum sekali dengan beliau. Dulu pernah terlintas pikiran jika kelak saya punya perusahaan, pak Dhe akan saya jadikan pegawai dengan gaji besar, Amin. Lain waktu akan saya ceritakan tentang beliau.
Pukul 03:45 kami sudah berada di atas bus Damri di stasiun Gambir. Jumlah penumpang sudah puluhan, bahkan hampir memenuhi kapasitas bus. Sepagi buta begini, ternyata banyak juga orang yang akan beraktivitas dan memanfaatkan armada ini. Apakah kita masih percaya bahwa orang Indonesia itu pemalas?
Sekitar 15 menit kemudian bus mulai meninggalkan Gambir. Suara mesinnya terdengar pelan membelah jalanan ibu kota. Udara di luar yang sangat dingin ditambah hembusan AC, cukup membekukan tubuh kami yang tanpa jaket.
Sampai di depan Pasar Baru, terdengar suara kondektur “Siapkan uang pas 20 ribu”.
Selama dalam perjalanan menuju bandara, mata saya terasa berat. Ngantuk banget. Berkali-kali saya memejamkan mata, namun tak kunjung tidur juga. Hati rupanya sedang tidak mau diajak kompromi.
Saya lupa pukul berapa tiba di Cengkareng. Yang jelas belum ada pukul 05:00.
Cengkareng di Waktu Subuh
Turun dari bus kami langsung bergegas masuk terminal 2F untuk boarding. “Lebih dini lebih baik. Kalau sudah boarding baru lega. Bisa puas jalan-jalan menikmati keindahan sekitar bandara yang terkenal dengan taman tropisnya itu” pikir saya.
Kami hanya membawa tas Eiger dan tas Elizabeth. Rencananya kedua tas tersebut saya bawa masuk ke kabin, agar tiba di Jogja kami bisa langsung ngacir ndak perlu menunggu bagasi. Namun karena di dalam tas kami ada parfum yang >100 ml maka ransel saya ikutkan ke bagasi. Hal ini untuk mencegah terjadinya karut marut nanti di pintu Gate.
Selesai boarding , kami mencari makanan atau minuman. Warung A Mild yang terletak di pojok dari arah kami boarding menjadi pilihan. Secangkir kopi kapal api seharga 10 ribu dan sebatang 234 cukup membuat mata saya terbelalak.
Aktivitas di terminal ini memang belum ramai. Sebagian toko sudah buka, banyak yang masih tutup. Bandara sekitar pukul 05:00 dengan suasana tenang, hari yang masih gelap dan temaramnya lampu menghadirkan keindahan tersendiri.
Sekitar pukul 05:30 kami sudah berada di ruang tunggu. TV LCD Samsung yang menyiarkan animal planet mencoba menghibur kami dari rasa bosan. Penumpang sudah hampir memenuhi ruang tunggu tersebut. Dari ruang tunggu ini kita bisa melihat pesawat yang akan diterbangkan.
Pesawat Garuda Indonesia dengan nomer penerbangan GA 202 nampak disiapkan. Terlihat aktivitas kru mengecek pesawat, memasukkan barang ke bagasi, hingga memasang belalai gajah.
Sekitar pukul 06:15 terdengar suara dari TOA yang memberi informasi bahwa penumpang dengan nomor penerbangan GA 202 tujuan Yogyakarta dipersilahkan naik ke dalam pesawat. Penumpang yang tertidur langsung bangun, nampak keceriaan di wajah mereka.
Penerbangan pagi ini penuh, hanya kelas bisnis yang masih menyisakan banyak bangku kosong. Selamat Tinggal Jakarta. (bersambung)