Hidup adalah Perbuatan
Jul 8th, 2008 by Mase Dewe
Dulu saya mengenal ungkapan bahwa hidup adalah perjuangan. Entah dari mana asal usul ungkapan tersebut, saya tidak tahu. Dari penelusuran saya sepintas di dunia ghoib (internet) saya menemukan artikel menarik.
Ide-ide seperti “Hidup adalah perjuangan, hanya yang kuat yang menang”, dan “Jika kamu tidak mengalahkan mereka, mereka akan mengalahkanmu” berakar pada Darwinisme, semua itu pada akhirnya bertanggung jawab atas peningkatan “fasisme dalam kehidupan sehari-hari” dewasa ini di seluruh penjuru dunia. (Harun Yahya – Fasisme: Ideologi Berdarah Darwinisme)
Bukan itu yang ingin saya bicarakan. Namun ungkapan mas Soetrino Bachir di TV yang tayang sekitar dua bulan yang lalu, bersamaan dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional.
Dalam iklan tersebut dimunculkan ungkapan baru yaitu hidup adalah perbuatan. Apakah ungkapan itu adalah hasil modifikasi dari ungkapan lama yang sudah ada, yaitu hidup adalah perjuangan. Hanya mas Soetrino Bachir sendiri yang tahu.
Masyarakat Hukum Indonesia (MHI) menilai iklan tersebut tidak menunjukkan kepekaannya atas krisis yang sedang dialami sebagian besar warga Indonesia. Tidak hanya itu, MHI juga mensomasi mas Soetrisno Bachir atas iklan tersebut. Konon untuk membuat iklan seperti itu menghabiskan uang sekitar Rp 300 miliar. (Kompas)
Sejak kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya, pro kontra sepertinya hal yang lumrah di negeri ini. Kemajuan dunia pemberitaan yang cukup pesat membuat informasi cepat menyebar dan mudah diakses. Hal tersebut suka tidak suka mengakibatkan “perpecahan” di masyarakat gampang terjadi.
Tengok kenaikan BBM yang terjadi bulan lalu misalnya. Hampir setiap hari saya menyaksikan kegaduhan terjadi di masyarakat alit lewat layar kotak itu. Ada yang meributkan data BLT yang katanya pilih kasih, ada yang pingsan karena berdesak-desakan waktu pencairan dana BLT, ada pagar DPR yang dirobohkan, ada mobil dinas pemerintah yang dibakar di semanggi dan ada-ada yang lainnya.
Jika kegaduhan tersebut sampai menelusup di tengah keluarga kita akibat beda sikap dalam memihak artis yang akan bercerai misalnya, tentu sangat memprihatinkan.
Kalau sudah begini, entah kenapa saya jadi merindukan tayangan TVRI di era Orde Baru. Seperti : cerdas cermat, klompencapir, dari desa ke desa, si Unyil, ketoprak sayembara Ampak-Ampak Singelopuro, serial Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat dan aneka tayangan lainnya.
Ahh, barangkali itu hanya nafsu saya saja yang ingin bernostalgia, beromantika ke masa lalu tanpa mau mengenal kekinian yang terjadi.
Kembali ke hidup adalah perbuatan. Terlepas dari semua kontroversi yang mengikutinya, ungkapan dari mas Soetrino Bachir itu cukup sederhana, mudah dicerna dan tidak terkesan muluk-muluk.
Kalau sampeyan rajin menonton layar kotak di rumah ataupun membaca koran, sampeyan bakal sering melihat ataupun membaca konsep yang canggih-canggih. Mulai dari cara mengatasi kemiskinan, mengatur pendidikan, mengadili koruptor, mengendalikan laju inflasi, mengelola kekayaan alam, memilih pemimpin dan lain sebagainya.
Namun kenapa hal tersebut malah kontra dengan fakta yang ada, masih banyak kemiskinan, kebodohan dan korupsi. Pendek kata kenapa gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo belum terwujud. Padahal modal kita untuk kesana ada. Apanya yang salah? Jangan-jangan kita terlalu senang berkonsep dan gemar berpolemik hingga lupa berbuat.
Termasuk tulisan ini. Barangkali hanya konsep tidak jelas yang tanpa guna, malah memperkeruh suasana dan menyumbangkan kesemrawutan saja.
Hidup adalah perbuatan. Perbuatan yang harus membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Bicara perubahan hendaknya dimulai dari diri sendiri, hal terkecil dan sekarang juga.
Saudaraku, sudahkah kita berbuat baik hari ini?
Uwf…. Smoga q Dpat Mengingatnya SlaLu…… (Amien)