Insiden Lapangan Bola
Jun 6th, 2008 by Mase Dewe
Sudah dua hari ini, dusun itu diguyur hujan. Meski kadang mendatangkan banjir, hujan juga mengubah hawa dari panas ke dingin. Sebuah metamorfosa alami yang banyak dibenci pun dirindu. Air laut yang menguap itu mendatangkan fenomena alam tersendiri.
Dalam rintik, mata Bejo nanar menatap ke langit. Aroma khas yang muncul akibat persentuhan bumi dengan air langit itu, dia nikmati sekali. Itulah salah satu yang Bejo suka dari hujan, selain bianglala.
Segelas kopi asli yang digoreng campur beras menemaninya. Tangan kanannya nampak memegang 234 yang berusaha ingin dia tinggalkan namun belum mampu. Sayup-sayup terdengar lagunya mbak Rossa mengalun pelan menelusup ke dalam relung hatinya.
desir pasir di padang tandus
segersang pemikiran hati
terkisah ku di antara cinta yang rumit
bila keyakinanku datang
kasih bukan sekadar cinta
pengorbanan cinta yang agung
ku pertaruhkan
Sudah mas, ndak baik lho nglamun terus.
Enggak kok, saya cuma bingung saja. Kenapa ya dua tokoh yang sangat dihormati di dusun ini bertengkar karena berbeda.
Maksud sampeyan insiden lapangan bola kemarin ya mas.
Betul, saya sedih. Kenapa masalah tersebut menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan meluas. Bahkan sampai melibatkan warga di dusun lainnya yang mungkin tidak tahu pangkal soalnya.
Iya mas, begitulah terkadang umat itu, mudah sekali tersulut dan terseret arus. Kenapa para sesepuh di dusun ini kurang mendinginkan suasana ya. Jangan sampai ada korban lagi, sudah cukup mas.
Sebagai umat memang saya hanya bisa bingung menyaksikan pertunjukan ini mas. Tapi sudahlah, toh semua sudah ditangani oleh aparat desa. Benar dan salahnya, kita serahkan kepada mereka saja.
Yang perlu dicatat, hindari ikut berkontribusi terhadap hal-hal yang akan memperbesar masalah tersebut. Sekecil apapun itu. Menahan diri itu bukan sikap yang jelek lho mas. Terkadang, inflasi informasi malah menambah ruwet suasana saja.
Masih ingat kan mas dengan kata-kata Pak Dhe waktu itu, “janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum, membuat kamu berlaku tidak adil”.
Mas, jangan lupa..
Mahalnya minyak di warung Bu Min, itu kehidupan kita yang lebih nyata lho..
Iya iya, tidak hanya nakal kamu juga cemerlang dek..
Tanpa terasa, lagunya mbak Rossa sudah berganti dengan lagunya mas Giring
ku berjalan terus tanpa henti
dan dia pun kini telah pergi
ku berdoa di tengah indah dunia
ku berdoa untuk dia yang kurindukan
memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
berselimut di tengah dingin dunia
berselimut dengan dia yang kurindukan
Bejopun kembali sendiri..