23 Februari 2008. Ba’da Dzuhur para utusan agung pergi ke rumahnya Adek untuk melamarnya.
Whaaaat, apa mas? Lamaran. Gak salah denger baca nich. Jangan bercanda dech. Serius mas, sumpah! Terus gimana para fansnya itu mas, patah hati donk.
Betewe kalau emang bener, aku ikut bahagia. Selamat yach Mas. Ngomong-ngomong acaranya gimana, seru gak? Bagi-bagi cerita ya, awas kalau pelit, ndak tak kasih kopi es lho entar.
), begini ceritanya..
Sekitar delapan nol-nol pagi, gerimis mengguyur Jakarta. Tidak deras memang hanya rintik-rintik air yang jatuh membasahi bumi. Tetesannya seperti butiran embun yang turun menyirami Edelweiss si bunga abadi di Mahameru itu, sangat eksotis.
Jam kamar menunjuk pukul 12:15 awan. Rintik hujan yang sudah berhenti sejak pukul 10, bersambung kembali menjadi hujan angin. Terdengar teriakan : “banjir-banjir hujaaan, jemuran-jemuraaan..” dari penghuni apartemen kos lantai 27-25=x itu.
Rupanya para ibu rumah tangga sangat setia dan sigap dalam menyambut hujan dadakan. Tangan mereka cekatan, terlatih dan terampil menyaut baju, celana, sidi, sarung, lsp dari tali jemuran.
Suasana di dalam kamar itupun tak kalah gaduh. Seorang lelaki ganteng tulen terlihat komat-kamit mondar-mandir gak jelas.Ternyata dia sedang bingung saudara-saudara. Hatinya gundah gulana tak menentu terseret derasnya hujan.
“Gimana nich, deres banget” gumamnya dalam hati.
Hujan yang turun siang itu memang amat sangat deras sekali. Sampeyan bayangkan saja hujan yang paling lebat yang pernah sampeyan lihat. Ya seperti itulah kira-kira.
Awan hitam pekat menyelimuti langit. Intensitas cahaya di luar kos seperti suasana sehabis subuh, temaram cenderung gelap. Untungnya tidak bergeledek jadi suasana horor yang sudah tercipta tidak bertambah tegang.
“Mas, entar nunggu hujannya reda aja. Sampe jam berapapun ditungguin kok. Gak usah bingung ya” suara di ujung telepon genggam itu menenangkan hati lelaki tersebut. Kekalutan yang ada cair seketika bersama hilangnya suara itu.
Di ruangan indah para utusan agung sudah mempersenjatai diri siap siaga. Mereka menunggu aba-aba. Namun apa daya, cuaca di luar masih belum bersahabat.
Satu jam sudah berlalu. Deras hujan belum memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti. Para utusan agung beku dalam tunggu. Dalam kesempatan itu terjadilah musyawarah yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam kamar dan deras hujan.
Dalam rapimnas musyawarah tersebut dibahas tentang siapa yang akan menjadi ketua utusan agung, terus bahasa apa yang akan digunakan, susunan acaranya seperti apa.
Setelah terjadi mufakat tanpa voting, disepakati bersama bahwa Pak Dhe ditetapkan sebagai ketua. Ketua ini bertugas sebagai wakil keluarga. Bahasa yang akan digunakan nanti adalah bahasa Jawa. Dan susunan acaranya seperti biasa(dijelaskan di bab tambahan) ditambah acara perkenalan keluarga besar.
“Mas, hujannya udah reda. Cepetan berangkat! Nunggu di rumah Bu Dhe saja. Takut entar deras lagi” suara di ujung telepon genggam itu memberi petunjuk. Jam dinding waktu itu sekitar pukul 14 kurang 15 menit.
Sekali terdengar kata berangkat, berangkatlah defile itu dengan langkah tegap maju. Tikungan demi tikungan mereka lewati dengan semangat ndredek 98.
Pada tikungan keempat terdapat kejadian unik. Di sebuah gang terdapat rumah warga yang sedang melangsungkan hajatan pernikahan. Saat akan melintasi gang tersebut, perwira defile sudah bertanya kepada penjaga setempat. Apakah defile ini bisa lewat? Orang itu menjawab bisa.
Melihat rumah tersebut, defile yang berada di baris belakang bertanya apakah itu sasaran kita. Perwira menjawab bukan. Kita hanya numpang lewat. Sudah minta izin.
Entah apa yang terdengar. Saat melewati rumah itu, defile di baris belakang lha kok ujug-ujug mampir ke rumah tersebut. Lalu mereka bersalaman ria dengan para penerima tamu.
Kok perwira defile ndak berhenti alias jalan terus? Wah kita salah ni. Barangkali begitu pikir mereka (sambil mesem-mesem maluw gitu dech, hihihi
)). Bagaimana pikiran penerima tamu itu, kekel dan bingung campur heran kali hehehe :p.
Beberapa meter sebelum tiba di sasaran, perwira memberikan kabar kedatangan. Tak lama setelah sinyal tersebut diterimanya, dikirimlah telik sandhi utusan untuk menyambut rombongan utusan agung itu.
Para utusan agung tidak langsung menuju sasaran. Utusan yang dikirim membawa mereka ke rumah Bu Dhenya Adek. Di sana kedatangan para utusan agung disambut dengan marching band sangat ramah.
Kenapa harus mampir dulu ke rumah Bu Dhenya Mas, kok gak langsung ke rumahnya saja.
Karena serah-serahan yang akan dibawa dan sudah disiapkan sejak semalam dititipkan di sana. Menurut juklak dan protap yang ditentukan sebelumnya, SOPnya memang dibuat begitu. Biar para utusan agung tidak terlalu repot. Jadi sejak berangkat dari mabes kos tadi, para utusan agung itu hanya lenggang kangkung saja, gak membawa arteleri.
Serah-serahan itu apa sih mas?
Serah-serahan itu adalah barang bawaan yang akan diberikan kepada pihak perempuan oleh pihak lelaki yang akan melamar. Maknanya sebagai tanda keseriusan. Isinya macam-macam bergantung individu masing-masing.
Ada seperangkat alat sholat, seperangkat alat mandi, seperangkat alat kecantikan, seperangkat alat tidur (lingerie dkk), pakaian plus aksesorisnya, aneka buah-buahan (buah beneran lho ya), aneka kue termasuk jadah dan jenang (biar lengket), lsp.
Teman saya waktu itu membawa kasur spring bed edisi nyar, bahkan teman saya yang satunya lagi membawa mobil sedan gress untuk serah-serahan. Gimana itu mas, boleh apa enggak.
Lha dalah, yo sampean tanyakan kepada perempuannya to. Mau menerimanya apa enggak. Kalau mau ya sah-sah saja. Kalau ndak mau, kasihkan saya saja. Emang ada ya perempuan yang ndak mau dapet mobil sedan gress, hayo angkat tangan
.
Kira-kira 15 menit para utusan agung di rumah Bu Dhe, datang petunjuk kalau para utusan agung dipersilahkan menuju ke sasaran. Jarak rumah Bu Dhenya Adek dengan lokasi utama hanya 25 m. Serah-serahan yang segudang tadi dibawa rame-rame oleh sepupunya Adek.
Diiringi mars maju tak gentar, para utusan agung yang dikawal sepupunya Adek di belakangnya dengan membawa serah-serahan dan panji-panji kebesaran mulai memasuki rumah itu.
“Assalamu’alaikum..”. Terus…???
Terus gimana mas? Apa yang terjadi kemudian, lanjut donk..
waaaahhhhhhhhh nggarai penasaran mas iki
kayake seru…
lanjutttttttt masssssss……….
/* biyen aku pas lamaran gak kayak gitu deh
Akhirnya berani juga heheheh. Berarti “bumbunya” udah lengkap nih. Congrat Bro’, wes tha lah yakin…nggak-nggak nek nyesel :p
Wueedaannn tenan …akhire wani
Selamat dul .. ojo lali mampir nang blog-ku yo