Menyambut Tamu Agung
Mar 2nd, 2008 by Mase Dewe
Tamu agung akan datang ke Jakarta dalam rangka menjadi utusan agung keluarga. Suasana apartemen kos itu terlihat sibuk. Acara penyambutan sudah dipersiapakan satu minggu sebelumnya.
21 Februari 2008 pagi. Sms (Short Message Service) dari mbak mengabarkan ada enam orang yang bakal ikut. Mereka adalah Bapak, Ibu, Mbak sendiri, Pak Dhe beserta istri, dan Bu Lek.
“Wah, mana muat apartemen kos ini buat menampung mereka” gumamku ndak karuan.
Akomodasi
Segenap jiwa dan raga serta upaya harus dimaksimalkan segera dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Karena yang datang adalah tamu agung. Jadi wajib hukumnya untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kelas VVIP.
Akomodasi dan tetek bengeknya harus aku siapkan sebaik mungkin. Aku ndak mau mengecewakan mereka walau hanya setetes. Rasa sesal di kemudian hari karena tidak berbuat yang terbaik jelas tiada guna. Hal itu pernah aku rasakan. Penyebabnya adalah radar nalarku yang kurang peka dan terasah. Aku belajar dari situ. Tamu harus dihormati dan dimuliakan, hal ini mereka juga yang memberi contoh.
Untungnya kamar sebelah apartemen kos sedang kosong. Aku segera ke rumah pak Haji untuk menyewa kamar tersebut. Alhamdulillah, masalah tempat tinggal sudah beres tinggal memikirkan urusan transportasi.
Rencananya aku akan mengajak penjaga kos yang sehari-hari aku panggil Pak Dhe juga, untuk menjemput di stasiun nanti. Pak Dhe ini tukang ojek juga.
22 Februari 2008 malam, aku jelaskan keinginanku kepada Pak Dhe. Pak Dhe pun menyanggupi.
Skenarionya adalah aku akan membonceng Bapak, Pak Dhe membonceng Pak Dheku, sedangkan para perempuan terhormat naik taksi saja.
Kok repot banget sih mas. Kenapa ndak nyewa dua taksi atau mobil saja sih.
Pikiran itu sempat terlintas. Namun, kalau sewa dua taksi, siapa yang akan menjadi penunjuk arah nanti. Yang tahu lokasi istana kos kan cuma aku. Selain itu koordinasinya juga susah, kalau yang satu belok terus satunya lagi lurus bisa hilang entar orang satu taksi
. Maklum, orang di kota ini yang bisa dipercaya cuma sedikit
.
Sedangkan untuk sewa mobil kijang inova tahun terbaru yang hanya Rp. 300 ribu kok sayang kalau cuma dipakai sak nyuk-an tok.
Rencana sudah tersusun rapi. Tempat tinggal, transportasi, hidangan, bersih-bersih kamar, menyingkirkan barang un-guna-able sampai membuang barang yang tidak layak dilihat sudah dikerjakan dengan baik. Namun pikiran belum bisa plonk 100 persen. Menunggu adalah kegiatan yang membuat harap-harap cemas.
Stasiun itu
23 Februari 2008 pagi. Stasiun itu masih terlihat seperti delapan tahun yang lalu. Hanya sedikit perubahan yang nampak. Bangunan loket di depan stasiun dan lantai pemisah jalur 1-3 dengan jalur 4-6 yang dikeramik tidak aku lihat delapan tahun yang lalu.
Kebersihan, kenyamanan dan keruwetannya masih sama. Sebuah potret fasilitas umum untuk kaum tipis duit di kota termaju di negeri ini. Jauh dari kelayakan apalagi kemewahan. Orang miskin dilarang enak. Kita merdeka sudah 63 tahun.
“Aku dah nyampek Bekasi” sms dari mbak memompa semangat.
Aku dan Pak Dhe bergegas menuju stasiun. Gerimis mengiringi kepergian kami. Pak Dhe yang sudah hafal jalan tikus membawaku lebih cepat ke tujuan. Lebih baik menunggu mereka lama daripada mereka yang harus menunggu, pikirku.
Kembali ke stasiun. Jam menunjuk pukul 8:30. Kereta itu sudah tiba. Ribuan penumpang keluar dari terowongan bawah tanah itu. Kesemrawutan semakin menjadi. Penumpang yang letih setelah menempuh perjalanan > 12 jam dan orang-orang di stasiun yang ingin memanfaatkan suasana tuk “mencari rezeki” tumplek blek jadi satu.
Keruwetan terlihat disana-sini. Saat-saat seperti itu sering terjadi barang hilang. Dua kardus berisi ikan goreng milik ibu temanku pernah dibawa kabur. Hal seperti ini lumrah dan sepertinya dibiarkan saja. Orang sendiri “merampok” bangsanya sendiri.
Itu baru di arus bawah, yang diatas sana itu milyaran lho mas.
Halahhh…
Terus kalau begitu apa tugas petugas yang digaji oleh tetesan keringat rakyat kecil itu ya mas. Ongkang-ongkang kaki, apa pura-pura tuli dan buta ya.
Wah, Saya ndak tahu, coba sampeyan tanyakan kepada Pak Jusman atau Pak Bambang.
Jika perampok, petugas dan penguasa sudah bersatu dimana letak keadilan itu sih mas. Bagaimana nasib kaum lemah yang santun itu. Apa perlu mereka membuat hukum sendiri seperti model maling ayam yang digebukin rame-rame hingga mati kayak di kampung itu.
Embuhlah, aku ini lagi mikir tamu agung kok malah sampeyan ajak mblakrak ngurusi rampoklah, keadilanlah, hukumlah..
Nesu-nesu, bukan begitu mas. Pikiran sampeyan itu biasanya kan segar dan mencerahkan. Mbok ya jangan medhit bagi-bagi kaweruh. Ilmu yang bermanfaat itu surga lho mas. Itu bukan kata saya tapi kata pak ustad lho
Zaman sekarang surganya orang itu duit, wong sekolah saja tuk nyari duit kok. Wis ah..
Kembali ke kamar stasiun. Dari atas tangga terowongan, aku perhatikan penumpang yang keluar satu persatu. Hingga penumpang sepi kok tamu agung belum juga terlihat. Dimanakah mereka. Jangan-jangan mereka sudah di luar dan aku gak melihat. Jangan-jangan mereka kesasar dan gak tahu arah keluar. Jangan-jangan, ahh sudahlah.
“Halo mbak, sampeyan nang endi?” tanyaku cemas.
“Aku neng gerbong siji jalur enem, gawane akeh, awakmu mrene o ae” sahut suara diujung sana panik.
“Aku gak isok mlebu iki, sampeyan metu ae liwat terowongan, tak enteni nang ngarep terowongan” jawabku dengan rasa yang sama, cemas.
“Terowongane neng sebelah endi to” tanya mbak.
“Sampeyan mari metu teko sepur noleh o nganan opo ngiri, terus goleki ae dalan metu sing di gawe wong-wong metu mau lho” jawabku memberi penjelasan dengan perasaan ndak karuan.
“Ooo, yo wis” suara mbak sambil mengakhiri sambungan.
Entah mudeng apa enggak dengan penjelasanku, aku gak mau ambil resiko. Membiarkan tamu agung terhormat kleleran di stasiun bukanlah hal yang baik. Kalau ada orang yang berniat jelek tentu akan tambah nrunyam urusannya. Kota ini seperti hutan belantara, serigala berbulu domba dengan serigala beneran susah dibedakan.
Bersama kecemasan yang ada, aku nekad masuk ke terowongan itu. Ternyata gak ada petugas disana. Rupanya stasiun itu sudah berbenah dan berubah sistem. Untuk yang satu ini, aku harus angkat topi.
Jalur enam terletak paling ujung. Dari jauh aku langsung bisa melihat para tamu agung itu. Rasa senang spontan mengalir membasahi sanubari, hatiku gerimis. Segera kudekati mereka. Rasa letih berbungkus capek terlihat jelas dari guratan-guratan wajahnya. Aku tidak kuat menatap paras mereka. Pancaran auranya kuat sekali. Seperti ada cahaya yang sangat silau yang membuat mataku tertunduk.
Barang bawaan mereka banyak sekali, bobotnya pun sangat berat. Lebih dari sepuluh koper besar. Ini di luar bayanganku sebelumnya.
Tamu agung ini akan menjadi utusan agung keluarga atas permintaanku. Upeti yang dibawa mereka amat sangat melimpah. Ini merupakan tanda bukti cinta, kasih dan sayang mereka kepadaku. Bagaimana aku tidak menyayangi mereka jika rasa cinta mereka sedemikian besar. Aku tidak mau jadi anak yang tidak tahu diri.
Aku panggil tukang panggul dua orang sekaligus. Tarifnya Rp. 20 ribu. Sampai di depan stasiun rencana transportasi yang telah aku siapkan jelas tidak bisa dijalankan. Tidak mungkin membawa tamu agung dan upeti yang segudang itu dengan dua motor dan satu taksi.
Untungnya lagi, di stasiun itu banyak orang menyewakan mobil. Setelah melalui proses tawar menawar yang cukup gampang akhirnya dengan uang Rp. 40 ribu dapat mobil cary. Ongkos calo Rp. 10 ribu, ada pungli juga rupanya.
Setelah dapat mobil, segera para tamu agung terhormat aku persilahkan naik. Pak Dhe tukang ojek yang sudah lama menunggu di parkiran aku suruh pulang duluan. Nanti aku suruh antar balik ke stasiun lagi untuk mengambil motorku yang tertinggal di parkiran.
Dua puluh menit perjalanan waktu yang dibutuhkan dari stasiun menuju apartemen kos. Pukul 09:15, Alhamdulillah semuanya sudah tiba dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Perasaan mereka terlihat riang dan gumbira.
Setibanya di lokasi syuting kos para tamu agung terhormat bersantap ria bersama dengan hidangan yang sudah aku sediakan. Setelah itu mereka beristirahat sebentar untuk memulihkan stamina. Ba’da Dzuhur mereka akan menjadi utusan agung ke rumah si adek.
Lamaran yho mas ???? trus kapan nikahe ??? kabar2i yha
moga dilancarkan semuanya
Selamat
Okedeh, dateng ya entar..