Wafatnya Mantan Presiden Soeharto
Jan 27th, 2008 by Mase Dewe
Minggu, 27 Januari 2008 pukul satu lewat sepuluh menit siang, mantan presiden Soeharto meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta setelah dirawat beberapa hari karena sakit.
Beberapa hari sebelumnya, tim dokter yang diketuai dr Mardjo Soebiandono menyatakan kondisi pak Harto membaik. Beliau sudah bisa merespon ketika diajak berdialog bahkan sudah bisa makan bubur.
Namun apa mau dikata, ternyata Tuhan berkehendak lain. Sekuat apapun kita ketika sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, tidak bakal bisa menolak.
RSPP menjadi epicentrum dari berita di tanah air. Hampir semua TV menyorotkan kameranya disana. Peristiwa detik ke detik dinanti jutaan rakyat.
Sebagian masyarakat tak puas diri. Mereka berbondong-bondong ke RSPP untuk menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut secara langsung.
Pejabat, mantan pejabat, tentara, polisi, wartawan dan rakyat tumplek blek di RSPP. Suasananya sangat ramai, antara sedih, haru dan tegang campur menjadi satu.
Para wartawan sibuk melaporkan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemana jenazah pak Harto akan dibawa? Cendana, Kalitan atau langsung Astana Giribangun.
Bagaimana skenario perjalanannya, jalur mana saja yang akan dilewati, siapa yang mengurus jenazahnya, bagaimana kondisi keluarganya, bagaimana sikap pemerintah adalah ragam pertanyaan yang ingin segera diketahui jawabannya.
Ada dua mobil jenazah yang datang ke RSPP. Mobil VW bernomor plat militer, terlihat mewah dan mobil jenazah dari RSPP yang nampak biasa saja (lebih mewah mobil VW). Entah kenapa, jenazah pak Harto dibawa dengan mobil dari RSPP itu.
Saat jenazah dikeluarkan dari RSPP dan dibawa masuk ke dalam mobil, kericuhan tak bisa dihindarkan. Wartawan, masyarakat, dan aparat (polisi dan tentara) saling desak untuk melihat, mengambil gambar dan mengamankannya.
Setelah jenazah pak Harto masuk ke dalam mobil, ada tiga orang yang nggandol di belakang mobil tersebut. Apa tujuannya dan siapa ketiga orang itu, entahlah.
Dari RSPP jenazah pak Harto dibawa menuju Cendana.
Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati
Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti
Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Selamat jalan Bapak Pembangunan, doa kami menyertaimu.
Marilah kita hentikan aktivitas kita sejenak,
guna mengheningkan cipta atas wafatnya mantan Presiden Soeharto.
Berdoa, mulai..