Puasa Weton
Jan 8th, 2008 by Mase Dewe
Orang tua saya sering berpuasa di hari weton(kelahiran) saya. Misalnya saja Sabtu Pahing. Katanya itu untuk kebahagiaan hidup saya. Bahkan beliau juga menyuruh saya melakukannya. Bagaimana saya menanggapi fenomena itu ya mas?
Budaya harus dihormati sebab manusia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari budaya itu sendiri. Manusia yang tidak menghargai budayanya sendiri adalah manusia yang lupa akan asal-usulnya. Ibarat kacang lupa kulitnya.
Tentu, tidak semua kebiasaan lama harus ditaati. Barangkali ada kebiasaan tersebut yang menurut akal budi kita bertentangan dengan agama. Seperti memberi sesaji kepada arwah yang sudah meninggal misalnya. Meski demikian, kita tetap harus menghormatinya.
Tidak semua kebiasaan lama bernilai negatif. Ada juga yang memberikan energi positif.
Berpuasa di hari weton(kelahiran kita) saya kira adalah hal yang baik. Tidak hanya orang tua, kita sendiri juga tidak jelek jika berpuasa di hari tersebut.
Bukankah agama mengajarkan kita untuk bersyukur. Berpuasa di hari weton saya pikir adalah salah satu manifestasi dari rasa syukur itu sendiri.
Dalam khasanah kejawen hal ini juga digunakan untuk olah batin. Tidak hanya raga dan pikiran, batin juga harus diasah. Dengan ketajaman batin, ketenangan dan kebahagiaan hidup dapat dirasakan.
Salah satu cara untuk mengasah batin itu adalah dengan tirakat, yaitu mengurangi makan dan tidur. Puasa di hari weton ini adalah contohnya.
Sebenarnya darimana asal anjuran melakukan ritual tirakat seperti itu ya mas?
Saya ndak tahu, barangkali sampeyan bisa baca-baca juga disini. Situs itu saya temukan setelah penelusuran ghoib saya ke alam maya.
Katanya :
Sri Pakubuwono IV telah memberikan wewaler, peringatan, pada anak cucunya untuk pengekangan nafsu. Peringatan itu tertuang dalam karyanya Serat Wulang Reh, yang di tulis pada hari ahad kliwon, wunku sungsang, tanggal ke-19, bulan besar, mongso ke-delapan, windu sancaya dan di beri sengkalan : Tata-guna-Swareng-Nata ( 1735 ).
Beliau bergelar : Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ing Ngalogo Abdur Rahman Sayyidin Panotogomo IV. Nama kecilnya adalah Bandoro Raden Mas Gusti Sumbadyo, Putra Pakubuwono III dengan Kanjeng Ratu Kencana.
Dalam pupuh II Tembang Kinanthi beliau menulis :
Padha gulangen ing kalbu (Pada latihlah hati)
Ing sasmita amrih lantip (Di pertanda supaya tajam)
Ojo pijer mangan nendra (Jangan hanya makan tidur melulu)
Ing kaprawiran den kaesthi (Di kewaspadaan supaya tinggi)
Pesunen sariraniro (Kendalikan nafsumu)
Sudanen dhahar lan guling (Kurangi makan dan tidur)
*Kurang lebih terjemahan bebasnya seperti itu.
Lho, tapi katanya ustad A hal ini nggak ada tuntunannya dan masuk kategori bid’ah, gimana itu mas?
Wah, kalau ini masalah sampeyan, bukan masalah saya. Percaya ndak percaya, terserah sampeyan saja menyikapinya.
[...] Original post by sasongko [...]
Ha… ha… haa….
Sampean persis seperti IBLIS. Pada dasarnya sampeyan tidak berdaya menghadapi orang yang ikhlas walaupun bodoh (tidak tahu apa-apa). Sampeyan hanya bisa mempengaruhi orang-orang yang nunut sampeyan yang nota bene orang-orang yang bodoh kuadrat (artinya sudah bodoh mau dibodohi oleh sampeyan yang jelas bodoh). Makanya orang bodoh agama jangan sok nyinggung-nyinggung soal agama nanti hasilnya seperti sampeyan dalam menjawab : “Berpuasa di hari weton(kelahiran kita) saya kira adalah hal yang baik”, sampeyan menggunakan perkiraan karena sampeyan BODOH tentang agama. dan
“Berpuasa di hari weton saya pikir adalah salah satu manifestasi dari rasa syukur itu sendiri”, sampeyan menggunakan pikir sampeyan yang sampeyan anggap pinter poo.. mana dalilnya.
Bukti lagi bahwa sampeyan kuwe BODOH LIDOH yaitu sampeyan tidak berani beradu argumen karena sampeyan yakin mesti kalah karena sampeyan BODOH KUADRAT.
Solusi bagi sampeyan cuma 1 (satu) Tobat, jangan coba-coba bicara agama kalau tidak tahu alias BODOH.
Dalam menyampaikan suatu pendapat tidak perlu membodoh-bodohkan orang lain untuk menguatkan pendapat kita. Ada cara yang elegan. Jika mas Abdul Muqti punya pendapat yang berbeda, silahkan dikemukakan lewat tulisan ide-idenya, bukan celaan. Misalnya : Imsak adalah perbuatan yang mengada-ngada sebab tidak ada tuntunannya di zaman Rosul, dll.
Salam
Toek Mas Muqti
Kalo sampeyan itu manusia yang beradat dan bermartabat, sampeyan tidak akan mengutarakan kata – kata kasar seperti itu, berikan masukan serta solusi yang baik bukannya hinaan atau caci maki, membodohkan orang lain, emang loe dah paling pinter. Saya juga suka puasa, entah itu puasa weton ataupun puasa senin kamis, saya gak peduli itu ajaran atau tuntunan siapa, yang penting bagi saya adalah puasa yang saya lakukan hanya saya tujukan untuk hubungan saya sama GUSTI ALLAH dan tindakan saya saja ini toh juga ndak merugikan orang lain tho. Jadi, menurut saya sich sah – sah saja mau puasa apapun asal tujuannya bener.
heh….dul mukti…
dolal..dalil…dolal…dalil….
ngajimu tekan ndi….???
Ya menrut pendapatku mau puas amau tidak itu urusan pribadi tp lebih baik orng itu puasa karena untuk meletih mengendalikan diri.
cara berpikir benar mau terima kenyataan hidup dengan iklas
Menurutku dan pengalaman orang lain orang yang sering puasa weton banyak manfaatnya
1. kedamaian
2. kesehatan
3. tajam rasa
4. rejiki berkecukupan
5. bisa punya hati welas asih tenggang rasa terhadap sesama tinggi
6. apa yang di minta biasanya terkabul
hanya cobaan dari puasa ini adalah perempuan itu bagi laki laki.
kalu tidak kuat justru terjerumus ke dunia zinah. tetapi kalu kuat nahan cobain ini kemakmuran di depan mata.
akan buka rejeki yang lebar dan penuh berkat.
Saya setuju sama kang rudy,
berpuasa yg penting niat kita Ibadah ke Allah…
ya,… kita harus saling menghargai, karena semuanya dari Gusti Allah, milik Gusti Allah, dan akan kembali pada Gusti Allah juga.
Mas dewe, abdul muqti, Rhe-a, hadi, rudy, abdul hanan semuanya akan kembali pada asalnya, Insya Allah
nuwun
Untuk Mase Dewe…sing sabar ya mas…bagi saya pribadi yang penting niat kita berpuasa itu apa, selama kita berpuasa dengan niat untuk mendapatkan keridhoan dari Allah..kenapa tidak, dan saya juga setuju dengan Rhe-a, selama puasa kita tidak merugikan orang lain, ya sah-sah aja…Dan memang lebih baik lagi kita mendahulukan yang wajib baru yang sunnah.
ada haditsnya, saya sendiri pernah membacanya, kalo puasa weton itu kata nabi mendekatkan pada kejayaan, lupa lagi sumbernya. PEACE AH sesama sodara islam jangan saling caci maki kalo emang lebih tahu jangan beri cacian tapi beri penjelasan
Sabar.., sabar dulur-dulur kabeh
Tenang aja, lepas dari masalah weton (paing, kliwon dst) puasa hari lahir itu ada tuntunannya. Lihat An Nakhl/S.16/78 dikatakan sbb ” Allah telah mengeluarkanmu dari perut ibumu (kelahiran) dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” diawal ayat ini menerangkan masalah babul maulud (pimtu kelahiran) dan diakhir ayat menerangkan masalah syukur (agar kamu bersyukur). Banyak orang2 mensyukuri nikmat seperti Bersyukur karena naik jabatan, naik gaji, lulus ujian dll, namun sedikit orang yang bersyukur karena pernah dilahirkan.., padahal ini adalah nikmat azasi. Bukankah seluruh nikmat diatas termasuk nikmat mata (penglihatan) nikmat telinga (pendengaran) berdiri diatas nikmat lahir?? Tanpa pernah dilahirkan nikmat2 diatas gak bakalan pernah ada. Coba kita simak hadits dibawah ini Keterangan dari Abi Qotadah Al Anshori RA : Rasul pernah ditanya mengenai puasa hari Senin dan beliau menjawab ” Pada hari itu aku DILAHIRKAN, dan aku diangkat menjadi Rasul dan diturunkan kepadaku Al-Qur’an” (Rowahu Muslim / Buluughul Marom / Bab Shoumut Tathowwu’ hadits no 699). Nah demikian yang saya bisa sharing.., selanjutnya terserah sedulur2 semua, buat Mase Dewe salut dan salam kenal dan buat mas Muqti ..mm.. dulu saya juga seperti sampean.., apa yang saya tidak tahu saya anggap tidak ada, dan apa yang tidak saya lakukan bila dilakukan orang lain saya anggap salah.. whh ternyata ilmu itu luas sekali …….. tapi melihat kritisnya anda bila mas Muqti mau membuka diri terhadap hal baru (baru bagi mas Muqti) saya yakin anda akan lebih cepat memahami keilmuan dengan lebih baik dari kita-kita. Wass….
Ass….
mas aku mau tanya nich…
Kalo kita puasa wetonnya orang lain yang gag ada hub darah sama kita, misalnya pacar dach…
itu gimana??apa pengaruh sama diri kita???
terus pengaruhnya buat dia apa???
haturnuwun….
Nda ush mragukn puasa weton.. it smua ad tuntunnnya dlm qur’an dn sunah,silahkn brkunjung ke blog sy..
scra supranural puasa weton ini dgunakn utk mngsah keilmuannya..
puasa weton khusus (24 jam, dimulai jam 6 sore smpai jam 6 sore hri brkutnya)
GAK USAH MENCACI MAKI. Delok jithoke dewe2……. (POSO KOK GAK OLEH….. BAH POSO SENEN KEMIS, POSO WETON IKU LAK URUSANE DEWE2….ngono lho kang….)
sy jg pernah diberi tahu sama guru spiritual saya bahwa Rasulullaah pernah menyarankan siti aisyah untuk puasa hari lahir, tp saya lupa ceritanya. Ada yg bs bantu??
semenjak saya puasa hari lahir dan sungkeman sama kedua orang tua,alhamdulillah allah mempermudah segala keinginan saya, walaupun itu harus di barengi dengan rasa sabar,……bisa dikatakan semenjak puasa weton hidup saya lebih beruntung,sampai sekarang saya masih menjalankan itu,amin3
Puasa weton.. ?? MANTABB.. TOP MARKOTOBB…!!!