Feed on
Posts
Comments

SBY dan Angka 9

Angka 9 sepertinya lekat dengan SBY. Entah suatu kebetulan apa tidak, konon angka ini adalah angka keberuntungannya.

Coba kita simak beberapa kejadian di bawah ini :

1.
Tahun 2004, SBY menjadi presiden NKRI saat dicalonkan oleh Partai Demokrat dengan nomor urut sembilan. Presiden pertama pilihan rakyat ini, dilahirkan pada tanggal sembilan, bulan sembilan, tahun 1949.

2.
Setelah naik tahta, presiden SBY membuka saluran komunikasi melalui SMS dengan nomor 9949 dan surat di PO BOX 9949. Dari kedua jalur ini rakyat bisa mengadu kepada presidennya. Entah itu tentang korupsi, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan lainnya.

Angka 9949 itu tentu tidak datang begitu saja dari langit. Angka itu diambil dari kelahiran pak presiden. Jika keempat angka itu dijumlahkan, hasilnya adalah 31. Tahun ini, Partai Demokrat bernomor 31.

3.
Beberapa hari yang lalu, Time melansir 100 tokoh tahun 2009 yang berpengaruh di dunia. Presiden SBY termasuk 100 tokoh itu. Beliau mendapat penghargaan untuk kategori Leaders & Revolutionaries.

Dari daftar tokoh tersebut, presiden kita ditempatkan diurutan kesembilan.

4.
Pileg 2009 dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009. Hasil hitung cepat menobatkan Partai Demokrat sebagai pemenang dengan perolehan suara sekitar 20 persen.

Untuk membangun koalisi dengan partai lain, Partai Demokrat membentuk tim sembilan. Salah satu tugas tim ini adalah mencari wapres yang akan mendampingi SBY kelak.

Kenapa namanya tim sembilan, kok bukan tim 31 misalnya?

***

Kapan ya mas kira-kira SBY akan mengumumkan wapresnya?
Tanggal 9 Mei 2009 mendatang. Ini hanyalah ramalan hasil otak-atik gathuk. Masalah keakuratannya, biarkan waktu yang menjawab. Mari sama-sama kita saksikan saja.

Sampai saat ini, SBY belum mengumumkan nama wapres yang akan mendampinginya kelak. Padahal waktu kian mepet dan publik sudah lama menunggu. Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan membuka pendaftaran calon presiden/wakil presiden (capres/cawapres) pada 10-16 Mei 2009.

Bicara tentang angka, sembilan adalah angka tertinggi. Boleh dibilang angka sempurna. Di tanah air, tidak hanya SBY saja yang lekat dengan angka ini. Pengusaha Putra Sampoerna konon juga mengkeramatkan angka tersebut.

Percaya atau tidak manusia selalu berhubungan dengan angka dalam kehidupannya. Entah itu tentang tanggal kelahiran, tanggal kematian, nomor absen, nilai ujian, jumlah anak, dll.

Apakah sampeyan percaya dengan angka keberuntungan sobat? Berapakah angka itu?

Wifi E63

ini adalah postingan yang dibikin dari e63.

Pilih Parpol Calon Presiden?

Pemilu raya semakin dekat, 20 hari lagi. Kampanye terbuka sudah dimulai sejak (16/3). Detak-detak demokrasi kian terasa menembus sekat-sekat sosial.

Di berbagai wilayah NKRI, Indonesia diguncang dengan orasi dan dangdut. Pemandangan sedikit ganjil terlihat di Riau, Kamis (18/03). Di mana dangdut panggung di lapangan terbuka, dihadiri oleh ribuan massa berkerudung. Massa yang biasanya menggetarkan tempat ibadah dengan zikirnya. Massa yang terkenal dengan lantang menyerukan pembelaan terhadap Palestina. Negeri di awan nun jauh di awang-awang tapi masih saudara.

Menyaksikan ini, saya jadi teringat dengan kawan saya yang berkerudung juga. Saat itu ia main ke Hardrock Cafe untuk menghadiri launching salah satu produk telekomunikasi, sekitar tahun 2000 an awal. Dia tidak mabuk memang. Tapi kehadirannya di cafe yang erat dengan citra dugemnya sulit untuk tidak menimbulkan syak wasangka.

Dari dua fenomena di atas, saya melihat ada benang merahnya. Dunia politik dan bisnis ternyata dapat menyublimkan keyakinan seseorang. Perbuatan yang sebelumnya dianggap tabu bisa menjadi lumrah di atas nama kepentingan.

Sobat..

Pesta demokrasi tanggal 9 April mendatang berbeda dengan sebelumnya.  Tidak hanya hal teknis antara coblos dan contreng tapi juga esensinya. Kali ini, kita memilih langsung wakil kita. Jika dulu keterwakilan kita ditentukan oleh partai, sekarang suara kita diberikan 100 persen langsung.

Ketika Irak “dihukum” karena isu senjata pemusnah masalnya, banyak orang mengatakan bahwa kehancuran negeri 1001 malam itu karena kesalahan Presiden Amerika George W Bush. Hal ini berarti juga kesalahan rakyat Amerika yang memilih George W Bush menjadi Presiden.

Oleh karena itu, di era demokrasi langsung ini, suara kita punya peran yang besar untuk menentukan merah putihnya negeri ini.

Sobat, untuk membangun pemerintahan yang solid dan kuat dibutuhkan dukungan politik yang mantab. Dukungan politik ini penting dan perlu agar supaya Presiden bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Bisa anda bayangkan jika kebijakan Presiden kemudian ditolak oleh para pembantunya (Gubernur, Bupati, lsp). Bisa bubar tatanan negara ini.

Dukungan Politik itu salah satunya lewat parlemen yang wakilnya akan kita pilih langsung nanti. Jadi idealnya, jika kita milih calon presiden A, partainya A juga harus kita pilih.

Oleh karena itu, hemat saya, partai politik mulai sekarang harus menampilkan siapa figur calon presiden yang bakal diusungnya. Perkara capres tersebut kemudian punya elektabiltas atau tidak ini soal belakang. Yang penting rakyat tidak memilih kucing dalam karung dan mendapat pelajaran politik yang pas.

Jika partai hanya mengedapankan kursi (kekuasaan) maka sulit buat negeri ini untuk membangun dengan demokrasi yang kian terbuka ini. Bukankah stabiltas itu diperlukan untuk keberlangsungan pembangunan.

Sejarah telah mencatat, di era terpimpin (BK dan HMS) kita bisa bersatu dan membangun bangsa. Indonesia saat itu bukanlah sekedar deretan pulau yang berjajar antara Sabang dan Merauke. Tetapi Indonesia adalah gema baru yang menggetarkan Asia, hingga dunia.

Gimana sobat, siapa pilihan anda?

Kapan Kehidupan Dimulai

“Banyak berdoa pak. Minta sama Allah agar dikasih roh yang terbaik. Roh yang soleh soleha, yang bawaannya selalu ingin dekat dengan Allah. Yang banyak rezekinya, bisa menyenangkan kedua orang tuanya dan orang banyak.” Begitulah nasihat pak dokter itu di masa-masa kehamilan awal pasiennya.

Roh adalah salah satu teka-teki dalam kehidupan ini. Roh baik membuat manusia baik. Roh jahat membuat manusia jahat. Ia bisa membuat manusia mulia melebihi malaikat. Di lain hal, ia juga bisa membuat manusia hina melebihi binatang.

Sebenarnya, sejak kapankah kehidupan itu dimulai?

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, Rosulullah saw bersabda : “Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi alaqoh (segumpal darah) selama waktu itu juga (40 hari), kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama waktu itu juga (40 hari), lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan roh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dari hadist di atas kita dapat belajar banyak hal. Pelajaran pertama yang bisa kita petik yaitu tentang awalnya kehidupan. Janin baru mempunyai roh setelah berusia 120 hari. Pada saat itu berarti kehidupan seorang manusia telah dimulai. Inilah yang kemudian disebut dengan kehidupan alam rahim.

Apakah ada yang masih ingat ketika kita ada di alam rahim? :)

Pelajaran kedua tentang proses penciptaan manusia. Dalam masa penciptaannya, ada tiga tahap yang harus dilalui. Yaitu : 40 hari pertama berbentuk air mani (nutfah), 40 hari kedua menjadi segumpal darah (alaqoh), dan 40 hari ketiga menjadi segumpal daging (mudhghoh). Dari sinilah kemudian janin itu berkembang hingga menjadi bayi.

Pelajaran ketiga tentang takdir Allah. Di dalam rahim, setelah berusia 120 hari, Allah menulis takdir manusia melalui perantara Malaikat. Takdir yang dimaksud di sini meliputi empat perkara, yaitu : rezeki, ajal, amal dan nasib (celaka atau beruntung). Semua itu terjadi ketika manusia masih di dalam rahim ibunya.

“Gimana dok, apakah sudah ada rohnya?” tanya pasien itu ketika kunjungan yang kesekian kalinya.

“Sudah pak. Sekarang usianya sudah 17 Minggu. Kalau bapak mau syukuran (slametan), silahkan” kata dokter.

Setelah kehamilan menginjak usia empat bulan, masyarakat Jawa yang memegang tradisi biasanya mengadakan acara slametan. Acara ini sebagai wujud rasa syukur  bahwa janin yang dikandung oleh sang istri telah diberikan roh oleh Allah SWT.

Ada pertanyaan yang layak dimunculkan. Sebelum roh itu ditiupkan ke dalam janin, di manakah roh itu berada? Bagaimanakah cara Allah menentukan bahwa janin A diberi roh A. Ada yang tahu jawabnya?

-dPs-

Nyawa dan Roh

Teknologi USG telah membawa manusia melihat apa yang tak kasat mata. Di layar monitor, janin itu bergerak lincah. Kakinya yang mungil menendang-nendang perut ibunya. Usianya baru 13 Minggu.

Sungguh keajaiban Tuhan Yang Maha Agung. Di dalam perut manusia bisa ada manusia lain. Ini membuktikan bahwa manusia itu diciptakan. Bukan muncul begitu saja.

Melihat fenomena tersebut, sepasang muda-mudi itu nampak takjub. Ini adalah pengalaman perdana mereka. Pemuda itu kemudian bertanya, “Dok, apakah sudah ada nyawanya?”

“Sudah pak. Tapi belum ada rohnya” jawab dokter.

Bukannya mengerti, pemuda itu malah bertambah bingung. Jawaban yang singkat itu menyentil rasa penasarannya. “Emang beda ya dok, antara nyawa dan roh” tanyanya lagi.

“Beda pak. Kalau ada orang koma, itu ada rohnya apa enggak?” Pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan juga.

“Hmmm..ada” jawab pemuda itu ragu.

“Begini pak, orang koma itu rohnya tidak ada. Tapi nyawanya ada. Oleh karena itu jantung, paru-paru, otak dan organ tubuhnya bisa berfungsi. Tapi ia gak bisa bangun/sadar karena rohnya tidak ada. Entah rohnya ada di mana.”

Rupanya antara roh dan nyawa itu berbeda. Roh membuat manusia hidup. Ia yang mengisi jasad. Bentuknya abstrak dan keberadaannya amat sangat rahasia. Ia termasuk hal yang gaib. Tidak banyak yang bisa diketahui akan hal ini kecuali hanya sedikit.

Sedangkan nyawa berkaitan erat dengan jasmani. Bisa dikatakan jika denyut jantung, gerak paru-paru, kelistrikan di otak, dan mekanisme organ tubuh yang lain, bekerja karena nyawa.

Dalam analogi yang lain, dokter menggambarkan, nyawa itu seperti motor yang bergerak pada posisi stationer. Ketika anda naiki, motor itu baru punya roh. Ia bisa melaju, mundur, isi bensin, dan sebagainya.

Dari obrolan singkat itu, pemuda tersebut belajar banyak. Ia lebih tahu dan sadar bahwa kedokteran bukan hanya sekedar mengembalikan fungsi organ tubuh. Ada dimensi lain di sana, yaitu spiritual.

Bayangannya kemudian menjelajah masa lalu. Ia teringat tokoh Nasional yang koma beberapa bulan yang lalu. Berbagai upaya medis telah dilakukan dengan cara dan dokter terbaik. Tapi hasilnya tokoh itu “tidak” juga sadar hingga ajalnya tiba.

Dokter hanya bisa berusaha mengembalikan fungsi organ tubuh yang tidak normal. Ia tidak bisa mengembalikan roh ke dalam jasad.

Berbicara tentang roh dan nyawa memang menarik. Sayang pada saat itu pemuda tersebut tidak bertanya. Apakah tumbuhan juga punya roh seperti manusia. Bukankah ia juga makhluk hidup?

Jogja Never Ending Love (7)

Tujuan terakhir kami adalah candi Borobudur. Candi Budha terbesar yang pernah dibangun di atas bumi ini. Sebuah warisan leluhur yang mendapat pengakuan di jagad Internasional.

Dalam sebuah acara di TV pak Siswono Yudho Husodo pernah berkata, dulu ketika candi Borobudur dibangun, teknologi yang digunakan adalah teknologi yang terhebat pada zamannya. Ini adalah bukti bahwa pada saat itu Nusantara sudah mempunyai peradaban yang tinggi. Kini bangsa kita sudah maju tapi bangsa lain juga maju lebih cepat. Untuk itu kita harus mengejar ketertinggalan itu dengan berlari lebih kencang. Pesan pak Sis di acara yang sama.

Berhubung tenaga kami tinggal sisa-sisa, acara ke Borobudur ini sengaja kami cancel.

Dari Prambanan kami langsung menuju hotel. Lokasinya tidak jauh dari Tugu yang terkenal itu. Banyak penginapan di kota pelajar ini. Jika sampean melancong ke sini usahakan cari penginapan yang dekat dengan kota. Kenapa? Karena kalau sampean pengen mlaku-mlaku sak wayah-wayah, tinggal mlaku ae. Gak repot, lebih sehat dan ekonomis. Paling cuma ngganjel di kaki saja :) . Tapi ndak papa, efek itu akan hilang sendiri jika hati anda riang gumbira.

Di depan lobi itu, kami berpisah dengan pak Kirno. Orang yang mengantar kami berkeliling selama ini. Orang yang memberi petunjuk sekaligus kamus bagi kami. Keramahan, kesederhanaan, kejujuran dan tingkahnya yang tertata membuat saya belajar banyak hal. Sedih rasanya.

Bukan perpisahan yang harus disesali tapi sebuah perjumpaan. Kenapa perjumpaan itu meski ada jika akhirnya harus berpisah. Terima kasih pak Kirno. Semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu kembali dalam suasana yang lebih indah.

Matahari hampir hilang di ufuk Barat. Sinarnya yang terang perlahan mulai disaingi nyala lampu. Di jeda pergantian waktu seperti ini, sering saya saksikan  keindahan alam. Langit yang kekuningan, temaramnya suasana, aktivitas manusia,  semuanya seolah terbawa masuk ke ujung hari. Seperti ada yang hilang dan diganti. Benar-benar sebuah lukisan Tuhan Yang Maha Dahsyat.

Sehabis mandi dan leyeh-leyeh, naluri mlancong kami tumbuh kembali. Suasana Jogja di waktu malam sepertinya sulit untuk kami lewatkan.

Keliling Naik Becak
Di depan penginapan, banyak becak yang mangkal. Bagaimana rasanya keliling Jogja sambil naik becak, saya ndak tahu. Ha wong ini juga baru mau nyoba.

Setelah ngobrol dengan salah satu tukang becak, kami mendapatkan pencerahan. Ternyata tarif becak untuk keliling Jogja cuma dan hanya dua puluh ribu saja. Ya, sampean memang tidak sedang salah baca. Dengan uang selembar itu, sampean sudah diantar ke UGD (Unit Gawat Dagadu) Pakuningratan, Keraton, toko-toko batik di sebelah Barat Keraton, Benteng Vredenburg, Malioboro, pusat bakpia di daerah Pathuk, sampai kembali lagi ke penginapan.

Berapa jarak yang ditempuh, saya juga ndak tahu. Lha wong muter-muter ngalor ngidul ngetan ngulon. Yang jelas, saat becak mulai dikayuh pertama kali, jam di tangan saya menunjuk pukul 17:30. Saya baru tiba kembali di penginapan pukul 21:30. Empat jam waktu yang kami habiskan.

Jika kecepatan becak saat itu anggap saja 15 menit per km, berarti jarak yang kami tempuh adalah 16 km. Ya, ini hanya itungan kasar saja. Pada kenyataannya memang tidak sejauh itu. Wong saat kami jalan-jalan, becaknya ngetem.

Dagadu
Kami langsung ke UGD (Unit Gawat Dagadu) di Pakuningratan. Lokasinya di sebelah Utara Tugu, tidak jauh. Saya tahu tempat ini dari seorang kawan. Dulu saya cari kaos Dagadu di mall Malioboro. Karena tidak ada yang cocok, kawan saya ini mengantarkan ke UGD. Kata kawan saya, kalau mau nyari Dagadu yang lebih lengkap ya di sini tempatnya.

Dagadu boleh dipalsukan. Kaos ini juga bisa sampean temukan di lapak-lapak Malioboro. Yang asli hanya ada di tempat tertentu saja.

Jika anda ke UGD hari Rabu, pegawai akan menyapa anda dengan kata “Selamat hari Rabu. Bukan selamat Datang.” Sapaan khas yang belum berubah hingga kini.

Saat itu ada produk baru dari Dagadu. Namanya oblongpedia. Oblongpedia adalah kaos yang berisi ensiklopedia. Misalnya tentang wayang, tentara keraton, bangunan keraton, bangunan bersejarah di Jogja, dan lain-lain. Tidak hanya gambar yang ditonjolkan, lewat kaos ini sampean juga bisa belajar tentang banyak hal.

Bakpia Pathuk
Selain gudeg, kaos dan batik, Jogja juga punya jajanan khas. Namanya bakpia pathuk. Pathuk adalah nama daerah tempat jajanan itu dibikin. Bakpia pathuk punya banyak nomor. Ada bakpia pathuk 25, 35, 75, dan lainnya. Apakah nomor ini adalah nomor toko atau rumahnya? Entahlah.

Mana bakpia yang paling enak mas?
Saya tidak tahu. Saat itu saya diantar ke bakpia pathuk 25. Tokonya cukup gedhe. Banyak foto dan tanda tangan artis ibukota dipasang di sana. Sepertinya jika ada artis ibukota yang ke Jogja, mereka beli oleh-oleh di toko ini.

Tidak hanya bakpia saja yang dijual di situ. Tapi juga ada belut goreng, gula kacang, keripik tempe, brem Madiun bahkan dodol Garut. Dengan uang 150 ribu, jika sampean pinter milih, barangkali bisa dapat oleh-oleh sebanyak satu kardus mie.

Tak terasa malam sudah kian larut. Nasi bebek goreng Tugu mengakhiri perjalanan kami malam itu. Banyak buah tangan yang kami bawa ke penginapan. Ada lebih dari sepuluh kantong. Mulai dari pakaian hingga camilan.

Saran saya, jika sampean ke Jogja, cobalah naik becak. Selain tarifnya yang murah, suasana kota yang eksotis dapat sampean rasakan betul.

Sahabat, jika Perancis punya Paris, Inggris punya London, Indonesia juga punya Jogja yang tak kalah apik. Kenapa? Lha wong saya belum punya kesempatan ke Paris dan London. Jadi ya harus bangga dengan kota sendiri bukan :) . Selamat melancong..(tamat).

Jogja Never Ending Love (6)

Sekitar pukul satu kami tiba di Candi Prambanan. Siang itu Matahari sangat terik, sinarnya menyengat kulit. “Saya tunggu di parkiran ya mas, di depan situ” kata pak Kirno. Harga tiket masuk ke komplek Candi Prambanan Rp. 8000 per orang. Di dekat pintu masuk, kami membeli kacamata dan menyewa payung. Harga sewa payung Rp 2000 untuk waktu sepuasnya.

Candi Prambanan terletak di perbatasan propinsi DIY dan Jawa Tengah, kurang lebih 17 km ke arah Timur Jogja atau 53 km ke arah Barat Solo. Komplek Candi Prambanan berdiri di sebelah Timur Sungai Opak dan  sekitar 200 m di Utara jalan raya Solo Jogja.

Di dalam komplek Candi Prambanan, banyak orang berjualan nasi pecel yang dibungkus daun pisang. Mereka berjualan di bawah pohon yang rindang sambil menggelar tikar. Tergoda dengan nikmatnya suasana kamipun mengicipi pecel tersebut. Satu bungkusnya Rp 5000. Makan pecel dibawah rindangnya pohon sambil melihat keindahan candi benar-benar menghadirkan kenikmatan tersendiri.

Setelah puas berlesehan ria, kami mendekati area candi. Ada tiga bangunan utama yang sangat besar, yaitu Candi Siwa, Brahma dan Wisnu. Candi Siwa adalah candi terbesar, tingginya 47 meter. Di candi ini ada empat ruangan dengan empat pintu yang menghadap empat penjuru mata angin. Di ruang sebelah Utara terdapat arca Durga Mahisasuramardhini yang sering disebut patung Loro Jonggrang.

Loro Jonggrang adalah putri Raja Baka yang cantik jelita hingga membuat Bandung Bondowoso mau membuatkan 1000 candi untuk mempersuntingnya. Kisah Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang adalah legenda dramatis yang tak kalah apik dengan Romeo dan Juliet karya William Shakespeare itu.

Gempa pada 27 Mei 2006 telah merusak beberapa bangunan candi. Batu-batu bagian atas candi yang jatuh terkesan dibiarkan begitu saja sehingga masih tergeletak di tanah. Untuk mengamankan lokasi wisata, dipasanglah pagar pembatas. Pagar tersebut membatasi lokasi mana yang boleh dikunjungi dan yang tidak. Selain itu pagar tersebut juga berfungsi untuk menuntun arah kunjungan.

Candi Siwa dan Brahma tidak boleh dimasuki pengunjung. Hal ini mungkin untuk alasan keamanan. Hanya Candi Wisnu yang boleh dinaiki. Itupun dibatasi maksimal 30 orang yang diizinkan berada di atas candi secara bersamaan. Ada penjaga yang memantaunya. Saat saya mendapat kesempatan naik, sempat juga terlintas rasa cemas, takut kalau-kalau candinya roboh.

Setelah dari komplek Candi Prambanan (Siwa, Brahma, Wisnu) kami menuju ke arah Utara. Di sana ada musium arkeologi dan audio visual. Selain itu juga ada Candi Sewu, Bubrah dan Lumbung. Di tengah perjalanan saya membeli miniatur Candi Prambanan seharga Rp 10.000. Untuk mengitari komplek Candi Prambanan seluas 39,8 hektar di bawah teriknya mentari, dibutuhkan stamina yang joss markojos. Kalau tekad anda kurang bulat, saya jamin tak akan sanggup.

Masuk musium arkeologi gratis sedangkan bayar Rp. 5000 per orang jika ke musium audio visual. Musium audio visual adalah bioskop mini yang memutar film tentang Candi Prambanan. Filmnya menceritakan struktur candi, kisah Ramayana yang ada di relief candi, dan lain-lain. Durasi film kurang lebih 45 menit.

AC di dalam musium audio visual sangat dingin. Setelah berpanas-panas ria dengan kaki pegel linu nut-nutan, masuk kedalam musium ini enak banget. Badan terasa rileks. Sayapun sempat tertidur. Rasa capek yang bercampur dengan enak membuat tubuh saya beristirahat spontan.

Setelah rasa capek berkurang kamipun melanjutkan perjalanan ke Candi Lumbung, Bubrah dan Sewu. Untuk menuju kesana kami naik kereta mini. Harga tiketnya Rp. 5000 per orang. Saat tiba di Candi Sewu, kereta berhenti sekitar 5 menitan, memberi kesempatan pengunjung berfoto-foto.

Tadinya saya malas turun dari kereta. Tapi karena dulu waktu ke Prambanan, Candi Sewu belum sempat saya kunjungi, akhirnya turun juga dech. Sayangkan jika jauh-jauh kesini enggak merasakan auranya Candi Sewu. Candi Sewu ini letaknya paling jauh. Habis dari Candi Sewu kereta mini lalu balik arah menuju pintu keluar komplek Candi Prambanan.

Setelah keluar dari area Candi Prambanan, ada petugas yang meminta payung yang kami sewa tadi. Di sepanjang jalan keluar ini banyak kios souvenir. Ada kaos, gelang, kalung, kacamata, gantungan kunci, batik, miniatur candi, miniatur sepeda onthel, dan aneka pernak-pernik lainnya.

Komplek Candi Prambanan ini dipugar terakhir di zaman Presiden Soeharto. Jelas saat itu kondisi candinya masih sangat bagus. Selain itu fasilitas umumnya juga tertata rapi dan bersih. Tak heran jika saat itu daya tariknya sangat luar biasa. Banyak wisman ataupun wisdom yang berkunjung. Kini kondisinya saya rasakan jauh berbeda.

Memang tidak mudah merawat warisan budaya seperti ini. Selain niat juga dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Alangkah sayangnya jika mahakarya budaya nenek moyang ini lapuk begitu saja oleh zaman. Bukankah kemajuan peradaban sebuah bangsa bisa diukur dari sejarah yang ditinggalkannya.

Tak terasa dua jam lebih kami berada di Candi Prambanan. Saat itu jam menunjuk pukul 3:25. Pak Kirno  menghampiri kami, matanya terlihat merah. Sepertinya beliau baru saja bangun tidur. Suhu udara yang panas memang enak buat leyeh-leyeh. (bersambung)

Mudik Sarana Pemerataan Ekonomi

Lebaran dan mudik ibarat dua sisi mata uang bagi kaum urban di Indonesia. Satu sisi hilang akan membuat sisi yang lainnya tidak bernilai atau turun nilainya. Oleh karena itu, tak heran jika hajatan besar setiap tahun ini selalu menyedot perhatian masyarakat. Pemerintahpun bahkan sampai turun tangan langsung guna menyukseskan acara akbar ini.

Ada yang lain dengan kereta api eksekutif Gajayana yang saya naiki sewaktu mudik kemarin. Gerbong keretanya baru. Gerbong baru tersebut mempunyai desain interior yang berbeda dengan gerbong lama. Perbedaannya antara lain nampak pada bentuk toilet, tata letak kursi penumpang, kunci pintu, dan TV.

Selain itu, di gerbong baru ini terdapat tambahan fasilitas yang cukup berguna. Yaitu colokan kabel yang terpasang di bawah meja setiap penumpang. Waktu saya coba untuk ngecas HP, colokan tersebut berfungsi dengan baik. Rupanya gerbong ini sudah mengikuti hidup gaya digital masyarakat.

Tidak hanya itu, pelayanan pembagian selimut ke penumpang juga dikemas dengan cara lain. Tidak seperti biasanya, selimut yang dibagikan kali ini dibungkus dengan plastik. Jelas hal ini membuat kebersihannya lebih terjaga meski di sisi lain menyebabkan pemborosan.

Dari obrolan saya dengan pegawai KA saya mendapat info bahwa gerbong ini memang masih baru. Gerbong tersebut belum 100 persen jadi. Rencananya gerbong baru ini akan diluncurkan pada Desember 2008. Sehabis hajatan mudik Nasional berakhir, gerbong akan dikembalikan ke INKA untuk diselesaikan.

Bagaimana nasib pemudik dengan kereta api ekonomi. Rupanya mereka masih belum seberuntung pemudik KA eksekutif. Di stasiun Blitar ratusan orang tidak bisa terangkut KA Matarmaja dikarenakan kereta sudah penuh sesak. Nampak rasa kesal, kecewa dan sedih terpancar dari wajah mereka.

Dephub memprediksi jumlah pemudik Lebaran tahun 2008 ini mencapai sekitar 15,8 juta orang dan kalau ditambah dengan pemudik yang berkendaraan pribadi dan pemudik bersepeda motor total mencapai sekitar 26 juta orang atau mengalami peningkatan sekitar 6,08 persen dibandingkan pemudik Lebaran 2007 lalu.

Pemudik yang akan menggunakan armada angkutan umum sebanyak sekitar 15,8 juta orang, terbagi sebanyak 9 juta orang menggunakan angkutan darat, yaitu enam juta pemudik menggunakan bus umum dan tiga juta pemudik menggunakan sarana angkutan laut dan sungai (ASDP), tiga juta orang lainnya menggunakan kereta api, satu juta orang menggunakan kapal laut, dan sekitar 1,8 juta pemudik menggunakan jalur udara (pesawat udara).

“Pemudik yang menggunakan sepeda motor dan mobil pribadi mencapai sekitar 10-11 juta orang,” kata Menhub lagi.*) Antara

Berdasar data di atas, jika satu orang saja membawa uang lima ratus ribu maka akan terjadi perpindahan arus uang sebesar 13 triliun rupiah (26 juta x 500 ribu). Kemungkinan besar, uang sejumlah itu akan terserap di daerah-daerah tujuan pemudik.

Dengan demikian mudik bukan hanya sekedar hajatan akbar rakyat yang tanpa guna. Selain meneruskan tradisi sungkeman dan berkumpul dengan sanak saudara, mudik juga merupakan sarana pemerataan ekonomi.

Jogja Never Ending Love (5)

Gudeg Yu Jum Wijilan
Jalan-jalan ke Jogja enggak makan gudeg, katanya belum afdol. Kami kemudian menuju warung gudeg Yu Jum. Letaknya di daerah Wijilan, hanya beberapa menit saja dari keraton, tidak jauh. Saya tahu warung itu dari acara kuliner mak nyus di TV.

Daerah Wijilan memang terkenal dengan gudegnya. Banyak warung gudeg berdiri di sepanjang jalan. “Daerah sini, dulu cuma warung Yu Jum saja mas” kata Pak Kirno. Saya jadi paham kenapa gudeg Yu Jum tersohor. Ternyata dia adalah pelopor gudeg di Wijilan.

Warungnya tidak besar. Luasnya kurang lebih empat meter persegi. Bangunannya sederhana. Sebuah TV 21’ dipasang menghadap ke arah luar. Tidak ada bangku, makannya lesehan. Waktu kami tiba, warungnya penuh. Maklum jumlah mejanya memang tidak banyak.

Gudeg Yu Jum manis rasanya. Tewel/gori (nangka muda) warnanya coklat sekali (coklat tua). Gudeg ini adalah gudeg kering. Tidak ada kuah santannya. Ayam, sambal dan kreceknya enak banget. Ramuan bumbunya memang menggoyang lidah, mak nyus sekali.

Ada sedikit yang kurang, porsi nasinya kurang banyak. Namun hal ini tidak mengurangi mak nyusnya gudeg tersebut. Jika anda ingin merasakan gudegnya gudeg, tidak rugi mencoba gudegnya Yu Jum.

Pak Kirno tidak mau ketika saya ajak makan bareng. Sampai saya paksa, beliau tetap saja menolak. “Monggo lho Pak, sak estu. Makan di mobil nopo dibungkus” kata saya. “Mboten mas, pun to sekecak aken. Santai mawon” kata Pak Kirno. Apakah Pak Kirno sungkan atau tidak mau ngrepoti kami, entahlah.

Pak Kirno hanya minum teh hangat. Itupun beliau bayar sendiri. Inilah salah satu contoh dari sikap terukur Pak Kirno, yang kadang membuat saya tidak enak hati sendiri itu.

Matahari sudah di atas kepala, sinarnya cukup terik, jam menunjuk pukul setengah dua belas. Setelah mengisi perut, perjalanan kami lanjutkan kembali. Tujuan berikutnya adalah batik rumah. Letaknya di daerah Ngasem.

Batik Rumah
Apa itu batik rumah? Batik rumah adalah toko batik yang ada di dalam rumah. Lokasinya bercampur dengan perumahan masyarakat, bukan model ruko. Rumahnya pun sudah bergaya modern, bukan joglo.

Bangunannya terdiri dari dua lantai. Yang dijadikan toko hanya lantai satu saja. Itupun tidak luas. Sehingga jika ada dua puluh orang saja berbelanja, pastinya akan terasa sesak. Beruntung waktu kami disana, pembelinya belum ramai.

Batik yang dijual memang bagus-bagus. Selain bahan dan motifnya yang ok, garapannya juga yahut. Ada celana kolor, kaos, kemeja, blus, dan lain-lain. Harganya bervariasi, mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu, bahkan jutaan.

Kotagede dan Kerajinan Perak
“Ke keraton, makan gudeg, lihat batik sudah semuanya. Terus kemana lagi ya”, pikir saya kebingungan memilih lokasi. Maklum jalan-jalan kali ini tidak ada juklak atau juknisnya. Modalnya spontan, jadi fleksibel saja arahnya.

Dari batik rumah kami kemudian menuju Kotagede. Kota yang menjadi pusat kerajinan perak di Jogja. Saya belum pernah ke Kotagede sebelumnya. Jadi jalan-jalan kali ini merupakan perdana.

Kotagede adalah ibukota pertama kerajaan Mataram. Sebelum ditempatnya yang sekarang, kerajaan Mataram pernah berdiri di Kotagede. Di sini juga terdapat makam Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram. Jadi boleh dikatakan, Kotagede ini adalah kota tua.

Selain itu, di Kotagede juga terdapat makam Ki Ageng Mangir Wanabaya. Ki Ageng Mangir adalah musuh sekaligus menantu Panembahan Senapati. Cerita antara Panembahan Senapati, Ki Ageng Mangir dan Pambayun sepertinya tak lekang di makan zaman.

Setibanya di Kotagede, kami mengunjungi dua toko perak yang sangat besar. Sayang nama kedua toko tersebut saya lupa :) .

Yang pertama adalah gedung kuno besar dan berhalaman luas. Sudah ratusan tahun usianya, klasik sekali.Gaya arsitekturnya perpaduan antara bangunan Belanda dan Jawa. Tegelnya kotak-kotak kecil masih asli sampai sekarang, belum diubah. Dulu, tegel tersebut konon akan dibuat dari uang logam yang disusun miring. Jadi bisa dibayangkan, betapa kayanya pemilik rumah tersebut.

Gedung itu dulu adalah pegadaian. Memang milik orang terkaya di Kotagede, terus dibeli oleh pemiliknya yang sekarang, dan dijadikan tempat kerajinan perak.

Sedangkan yang kedua adalah gedung yang sudah agak modern. Letaknya tidak jauh dari toko pertama. Bangunannya mirip seperti hotel dan cukup luas. Di toko ini, para pengrajin peraknya ada di bagian belakang, terpisah tapi masih menyatu dengan area komplek toko tersebut.

Disini adalah toko pada umumnya. Pembeli datang, lihat-lihat barang, dan kalau cocok tinggal bayar. Tidak ada pemandu yang menemani kami saat proses lihat-melihat.

Hal ini sangat berbeda dengan toko pertama. Pada toko pertama, begitu masuk, kami langsung ditemani pemandu. Seorang mas bukan mbak. “Sudah pernah kesini” kata masnya. “Belum” jawab saya.

Kemudian kami dibawa ke sebuah ruangan, bentuknya mirip sebuah lorong. Di sana kami bisa melihat cara membuat kerajinan perak. Selain itu kami juga dijelaskan tentang proses membuat sebuah perhiasan. Mulai dari mencampur bahan perak, membuat rangka, membuat benang perak, menganyam benang tersebut kedalam rangka, hingga menjadi sebuah perhiasan, seperti yang sering kita lihat di mall.

Untuk membuat sebuah cincin yang seperti ukiran, ternyata harus dianyam satu-satu. Anyamannya dari benang perak yang lembut sekali. Hal ini tentu membutuhkan ketekunan, ketelitian, kecermatan dan kesabaran yang luar biasa. Suatu pekerjaan yang tidak mudah dilakukan.

Sebuah cincin perak tertulis angka 925. Angka tersebut artinya kadar perak dalam cincin itu adalah 92,5 %. Ini adalah kadar tertinggi dalam sebuah perhiasan perak. Perak dengan kadar 100% itu lentur sekali, sulit untuk dibentuk. Selain angka 925, ada 825 dan seterusnya.

Perak bakar adalah perak yang diolesi oleh suatu obat hingga warnanya menjadi buram atau gosong. Perak bakar bukanlah perak yang dibakar hingga gosong. Perak bakar dan perak putih yang mengkilap itu sama saja.

Mengunjungi Kotagede selain menelusuri jejak masa lalu juga bisa menambah wawasan tentang dunia perak dan kerajinannya. Perhiasan terkadang seperti magnet. Dia menghadirkan daya tariknya sendiri. (bersambung)

Jogja Never Ending Love (4)

Di usianya yang senja, setengah abad lebih, pak Kirno masih bekerja keras. Sudah dua puluh tahun lewat beliau menekuni profesinya, mengantar wisatawan dari satu lokasi ke lokasi lain. Sebuah loyalitas yang luar biasa.

Pak Kirno mempunyai tiga orang putra. Yang dua sudah menikah, satu masih kuliah. Putra pertamanya bekerja di maskapai penerbangan yang cukup terkenal. Sedangkan yang nomor dua bekerja di Belanda, di bidang furniture.

Nampak rasa bangga ketika beliau menceritakan hal ini. Saya pun terperanjat, terpaku dalam bisu, hening mendengarkan. Ada rasa tak percaya melintas. Luar biasa dan hebat, kata saya tak terucap.

Selama beliau bercerita , tiada kesan jumawa yang saya rasakan. Dari tutur katanya yang halus, saya menangkap figur kepribadian yang luhur. Keramahan, kesopanan dan tindak tanduknya cukup terukur. Ini membuat saya tidak enak hati. Sering salah tingkah sendiri.

Diam-diam, kekaguman saya kepada beliau mulai tumbuh. Hati saya teresonansi. Jika berkaca kepada orang seperti pak Kirno, saya malu. Generasi macam apa saya ini. Susah sedikit, mengeluh. Sukses sedikit, angkuh.

Apakah lintasan zaman memang merusak sebuah generasi. Sehingga mencetak manusia-manusia yang lemah. Asing terhadap dirinya sendiri. Hidup dalam ketidaktenangan, hedonis, konsumtif. Entahlah. Tak perlu mencari kambing hitam. Rasanya, instropeksi diri jauh lebih bermanfaat.

Selepas dari bandara, kami mencari toko kamera. Di depan sebuah gedung, pak Kirno memarkirkan mobil. “Di sini cukup lengkap mas. Sepertinya baru buka. Monggo, santai mawon” kata pak Kirno.

Toko itu terletak di jalan Solo-Jogja. Jika dari Adi Sucipto, lokasinya di sebelah kiri jalan. Bangunan kuno berlantai satu. Barang yang dipajang beragam. Banyak pilihan dari berbagai merk. Pak Kirno benar.

Akhirnya setelah memilih ini itu, saya membeli kamera film merk konica. Harganya sembilan puluh ribu. Dapat bonus tiga roll film dan baterai.

“Sakniki, ten pundi rumiyin pak” tanya saya.
”Badhe ten keraton nopo mboten” kata pak Kirno.
”Nggih” jawab saya.
”Ten keraton rumiyin mawon. Mangke menawi sonten, tutup” kata pak Kirno.
”Tutupe jam pinten to” tanya saya.
”Jam kaleh” jawab pak Kirno.

Tikungan demi tikungan kami telusuri. Dari balik kaca hitam, saya melihat Tugu yang sangat terkenal itu. Tugu Yogyakarta. Hotel tempat kami akan menginap, hanya beberapa meter saja dari Tugu tersebut.

Entah pada tikungan yang keberapa, kami lewat di jalan Malioboro. Aktivitasnya belum ramai. Nampak para pedagang sedang bersiap-siap membuka lapak. Saat itu kira-kira pukul sembilan kurang sekian menit.

“Masih sepi mas. Orang Jogja hidupnya nyantai” kata pak Kirno mengomentari suasana yang terlihat.
”Nggih pak. Kalau di Jakarta, jam segini sudah ramai” kata saya memberi gambaran kepada pak Kirno. (“Nggak tahu ramai pada ngapain. Pada serakah paling” kata saya dalam hati).

Keraton Jogja
Sekitar pukul sembilan kami tiba di Keraton Jogja. Kerajaan yang dibangun tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi. Pemerintahannya masih aktif sampai sekarang. Berarti sudah 253 tahun usianya. Sebuah warisan leluhur yang merekam jejak zaman.

Pak Kirno memarkirkan mobil di depan pos tentara. Sepertinya kantor koramil. Pohon besar yang rindang tumbuh di halamannya.

Tempat parkir itu berada di sisi Barat keraton persis. Beberapa langkah saja, kami sudah masuk ke lokasi keraton. Waktu study tour SMP, seingat saya, pintu masuknya bukan di sini. Namun di depan, dekat alun-alun lor. Zaman memang sudah berubah. Hal ini sering tidak saya rasa dan sadari.

Di sekitar lokasi parkir terdapat beberapa penjual sovenir. Ada blangkon, kacamata, topi, tas rajut, kaos, gantungan kunci, batik, miniatur candi, dan aneka kerajinan tangan lainnya.

Harga tiket masuk keraton lima ribu rupiah per orang. Jika membawa kamera, pengunjung dikenakan biaya tambahan seribu rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk pemandu wisata yang disediakan oleh keraton.

Yang menjadi pemandu kami, namanya mbak Menik. Seragamnya batik yang dipadu dengan rok di bawah lutut. Keduanya didominasi warna kuning. Sedangkan sepatunya, pantofel hitam.

Beberapa langkah ke arah Timur, dari loket tiket, di depan pintu gerbang, mbak Menik menunggu kami. Pintu gerbangnya, jika dilihat dari depan seperti buntu tertutup tembok. Hal ini untuk menjaga keamanan. Orang tidak bisa melihat langsung ke dalam keraton. Selain itu juga bisa berfungsi untuk menahan laju orang yang akan masuk.

Setelah melalui pintu gerbang, di sisi Barat kami melihat bangsal Sri Manganti. Bangsal ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan pariwisata keraton. Di bangsal ini pengunjung bisa duduk beristirahat sambil menikmati pertunjukan yang sedang diadakan, setelah berkeliling keraton.

Saat itu, kami menikmati pagelaran wayang golek asli Jawa. “Bukannya wayang golek itu dari Sunda mbak” tanya saya kepada mbak Menik. “Bukan, dari Jawa juga ada” kata mbak Menik. Saya baru tahu, ternyata ada wayang golek Jawa.

Di sebelah Timur Bangsal Sri Manganti terdapat reruntuhan Bangsal Traju Mas. Hanya bangunan lantainya saja yang tersisa. Gempa di Yogyakarta yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 telah merobohkan bangsal ini.

Antara Bangsal Sri Manganti dan Traju Mas, di sebelah Selatannya terdapat pintu gerbang lagi. Setelah melalui pintu gerbang tersebut, di sisi Barat kami melihat rumah Sultan menghadap ke Timur. Ada dua kaca besar tergantung di dindingnya. Pintu dan tiangnya didominasi warna kuning. Rumah itu disebut juga Gedung Kuning.

Di sebelah Tenggara Gedung Kuning terdapat Bangsal Kencono. Bangunan yang sering terlihat di TV. Langit-langit, dinding dan tiangnya dari kayu Jati yang diukir. Kata mbak Menik, warna kuning pada ukiran tersebut dilapisi serbuk emas.

Bangsal Kencono adalah bangsal yang terlihat paling mewah. Bangsal ini sering digunakan untuk acara besar keraton. Salah satunya waktu pernikahan putri Sultan yang ketiga, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurkamnari Dewi (30), dengan seorang pengusaha, Yun Prasetyo Hadi (32) pada Jumat 9 Mei 2008.

Setelah menikah, putra atau putri raja tinggal di luar lingkungan keraton. “Kenapa kok begitu mbak” tanya saya. “Ya nanti kalau tinggal di keraton semua, keratonnya jadi penuh” jawab mbak Menik. “Nanti kalau sudah diangkat jadi raja, baru tinggal di keraton lagi” kata mbak Menik menjelaskan.

Di samping Barat Bangsal Kencono terdapat ruang pusaka. Di sanalah pusaka-pusaka keraton disimpan. Bangsal ini tertutup untuk umum. Hanya kacanya saja yang bisa dilihat dari Bangsal Kencono. Sedangkan di Selatan ruang pusaka terletak Kaputren, tempat istri dan putri raja tinggal. Area ini juga tertutup untuk umum.

Jika ditarik garis lurus dari Utara ke Selatan maka akan terdapat bangunan: Bangsal Sri Manganti, Gedung Kuning, Ruang Pusaka dan Kaputren.

Di Selatan Bangsal Kencono berdiri Bangsal Manis. Kedua bangsal ini berhimpitan. Bangsal Manis digunakan untuk mencuci pusaka keraton. Pusaka dari ruang pusaka. Acara cuci pusaka dilaksanakan setiap tanggal satu Suro, saat tahun baru Jawa.

Di sebelah Timur komplek Bangsal Kencono ada halaman yang cukup luas. Di sini tumbuh pohon yang meneduhkan. Di halaman ini, sering digunakan pengunjung untuk berfoto.

Di sisi Selatan Bangsal Manis terdapat Gedhong Patehan. Fungsinya untuk menyiapkan aneka minuman jika ada acara di Bangsal Kencono. Waktu pernikahan putri Sultan yang ketiga, gedung ini masih digunakan. Di dalam Gedhong Patehan terdapat bermacam-macam koleksi peralatan minum yang antik dari berbagai negara. Mulai gelas hingga saringan air (dispenser) zaman dulu.

Selain bangunan diatas, kami juga mengunjungi museum lukisan. Di dalam museum ini terdapat lukisan para Sultan beserta permaisurinya. Mulai dari Sultan HB III sampai HB X. Kenapa lukisan Sultan HB I dan HB II tidak ada. Kata mbak Menik, di zaman itu belum ada pelukis yang melukis Sultan.

Permaisuri adalah istri raja yang juga keturunan raja. Orang biasa bilang keturunan darah biru. Jika bukan keturunan raja maka namanya selir. Hanya permaisuri yang bisa duduk bersebelahan dengan raja saat berada di singgasana.

Lalu kami juga mengunjungi museum peralatan yang dipakai para Sultan sehari-hari. Setiap Sultan mempunyai barang khas sendiri-sendiri. Tidak ada yang sama. Di ruangan itu, seingat saya ada gelas, sendok, piring, pistol, pedang, baju adat yang dipakai Sultan HB IX waktu sunat. Selain itu, ada juga mobil-mobilan, kamera dan teropong milik Sultan HB IX.

Kemudian kami melihat museum cindera mata. Di dalam museum tersebut terdapat cindera mata dari negara-negara sahabat. Seingat saya, ada hiasan keramik dari Jepang, guci dari Cina, tanduk kerbau yang sangat panjang dari Korea, lampu kristal dari Eropa, jam dari Belanda, dan lain-lain.

Waktu kami di ruangan ini, bebarengan dengan rombongan wisman dari Cina. Suara mereka gaduh sekali. Pemandunya memakai beskap dan menggunakan bahasa Cina juga.

Semua bangunan di atas adalah bangunan lama. Namun, ada satu bangunan yang mencolok dan tergolong bangunan baru. Sebuah pendopo bertembok kaca dengan keramik putih masa kini. Bangunan tersebut adalah museum Sultan HB IX. Di dalamnya dipajang barang-barang khusus milik Sultan HB IX. Ada meja kerja, lencana / tanda jasa yang pernah dipakai, prasasti, pesan Bung Karno, foto dan lain-lain.

Sultan HB IX diangkat jadi raja sepulang dari sekolah di Belanda. Waktu itu usianya masih 28 tahun dan belum menikah. Beliau juga dikenal sebagai bapak Pramuka Indonesia. Salah satu hobinya adalah fotografi.

Selama berkeliling, mbak Menik menemani kami dengan sabar. Ia menjelaskan setiap tempat yang kami kunjungi. Sesekali ia juga menjawab pertanyaan saya dan memotret kami berdua.

Tak terasa, dua jam sudah kami berkeliling di dalam keraton. Banyak tempat dan ruang kami singgahi. Rasanya kami seperti memasuki mesin waktu, kembali ke masa lalu. Masa yang pernah dialami oleh leluhur.

Bung Karno pernah berkata, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Siapa yang berhenti akan diseret oleh sejarah dan siapa yang menentang corak dan arahnya sejarah, tidak peduli tiada bangsa apapun, ia akan digiling, digilas oleh sejarah itu sama sekali.

Waktu menunjuk pukul sebelas. Kaki dan perut kami sudah agak rewel. Perjalanan masih panjang. (bersambung)

Older Posts »