Di usianya yang senja, setengah abad lebih, pak Kirno masih bekerja keras. Sudah dua puluh tahun lewat beliau menekuni profesinya, mengantar wisatawan dari satu lokasi ke lokasi lain. Sebuah loyalitas yang luar biasa.
Pak Kirno mempunyai tiga orang putra. Yang dua sudah menikah, satu masih kuliah. Putra pertamanya bekerja di maskapai penerbangan yang cukup terkenal. Sedangkan yang nomor dua bekerja di Belanda, di bidang furniture.
Nampak rasa bangga ketika beliau menceritakan hal ini. Saya pun terperanjat, terpaku dalam bisu, hening mendengarkan. Ada rasa tak percaya melintas. Luar biasa dan hebat, kata saya tak terucap.
Selama beliau bercerita , tiada kesan jumawa yang saya rasakan. Dari tutur katanya yang halus, saya menangkap figur kepribadian yang luhur. Keramahan, kesopanan dan tindak tanduknya cukup terukur. Ini membuat saya tidak enak hati. Sering salah tingkah sendiri.
Diam-diam, kekaguman saya kepada beliau mulai tumbuh. Hati saya teresonansi. Jika berkaca kepada orang seperti pak Kirno, saya malu. Generasi macam apa saya ini. Susah sedikit, mengeluh. Sukses sedikit, angkuh.
Apakah lintasan zaman memang merusak sebuah generasi. Sehingga mencetak manusia-manusia yang lemah. Asing terhadap dirinya sendiri. Hidup dalam ketidaktenangan, hedonis, konsumtif. Entahlah. Tak perlu mencari kambing hitam. Rasanya, instropeksi diri jauh lebih bermanfaat.
Selepas dari bandara, kami mencari toko kamera. Di depan sebuah gedung, pak Kirno memarkirkan mobil. “Di sini cukup lengkap mas. Sepertinya baru buka. Monggo, santai mawon” kata pak Kirno.
Toko itu terletak di jalan Solo-Jogja. Jika dari Adi Sucipto, lokasinya di sebelah kiri jalan. Bangunan kuno berlantai satu. Barang yang dipajang beragam. Banyak pilihan dari berbagai merk. Pak Kirno benar.
Akhirnya setelah memilih ini itu, saya membeli kamera film merk konica. Harganya sembilan puluh ribu. Dapat bonus tiga roll film dan baterai.
“Sakniki, ten pundi rumiyin pak” tanya saya.
”Badhe ten keraton nopo mboten” kata pak Kirno.
”Nggih” jawab saya.
”Ten keraton rumiyin mawon. Mangke menawi sonten, tutup” kata pak Kirno.
”Tutupe jam pinten to” tanya saya.
”Jam kaleh” jawab pak Kirno.
Tikungan demi tikungan kami telusuri. Dari balik kaca hitam, saya melihat Tugu yang sangat terkenal itu. Tugu Yogyakarta. Hotel tempat kami akan menginap, hanya beberapa meter saja dari Tugu tersebut.
Entah pada tikungan yang keberapa, kami lewat di jalan Malioboro. Aktivitasnya belum ramai. Nampak para pedagang sedang bersiap-siap membuka lapak. Saat itu kira-kira pukul sembilan kurang sekian menit.
“Masih sepi mas. Orang Jogja hidupnya nyantai” kata pak Kirno mengomentari suasana yang terlihat.
”Nggih pak. Kalau di Jakarta, jam segini sudah ramai” kata saya memberi gambaran kepada pak Kirno. (“Nggak tahu ramai pada ngapain. Pada serakah paling” kata saya dalam hati).
Keraton Jogja
Sekitar pukul sembilan kami tiba di Keraton Jogja. Kerajaan yang dibangun tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi. Pemerintahannya masih aktif sampai sekarang. Berarti sudah 253 tahun usianya. Sebuah warisan leluhur yang merekam jejak zaman.
Pak Kirno memarkirkan mobil di depan pos tentara. Sepertinya kantor koramil. Pohon besar yang rindang tumbuh di halamannya.
Tempat parkir itu berada di sisi Barat keraton persis. Beberapa langkah saja, kami sudah masuk ke lokasi keraton. Waktu study tour SMP, seingat saya, pintu masuknya bukan di sini. Namun di depan, dekat alun-alun lor. Zaman memang sudah berubah. Hal ini sering tidak saya rasa dan sadari.
Di sekitar lokasi parkir terdapat beberapa penjual sovenir. Ada blangkon, kacamata, topi, tas rajut, kaos, gantungan kunci, batik, miniatur candi, dan aneka kerajinan tangan lainnya.
Harga tiket masuk keraton lima ribu rupiah per orang. Jika membawa kamera, pengunjung dikenakan biaya tambahan seribu rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk pemandu wisata yang disediakan oleh keraton.
Yang menjadi pemandu kami, namanya mbak Menik. Seragamnya batik yang dipadu dengan rok di bawah lutut. Keduanya didominasi warna kuning. Sedangkan sepatunya, pantofel hitam.
Beberapa langkah ke arah Timur, dari loket tiket, di depan pintu gerbang, mbak Menik menunggu kami. Pintu gerbangnya, jika dilihat dari depan seperti buntu tertutup tembok. Hal ini untuk menjaga keamanan. Orang tidak bisa melihat langsung ke dalam keraton. Selain itu juga bisa berfungsi untuk menahan laju orang yang akan masuk.
Setelah melalui pintu gerbang, di sisi Barat kami melihat bangsal Sri Manganti. Bangsal ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan pariwisata keraton. Di bangsal ini pengunjung bisa duduk beristirahat sambil menikmati pertunjukan yang sedang diadakan, setelah berkeliling keraton.
Saat itu, kami menikmati pagelaran wayang golek asli Jawa. “Bukannya wayang golek itu dari Sunda mbak” tanya saya kepada mbak Menik. “Bukan, dari Jawa juga ada” kata mbak Menik. Saya baru tahu, ternyata ada wayang golek Jawa.
Di sebelah Timur Bangsal Sri Manganti terdapat reruntuhan Bangsal Traju Mas. Hanya bangunan lantainya saja yang tersisa. Gempa di Yogyakarta yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 telah merobohkan bangsal ini.
Antara Bangsal Sri Manganti dan Traju Mas, di sebelah Selatannya terdapat pintu gerbang lagi. Setelah melalui pintu gerbang tersebut, di sisi Barat kami melihat rumah Sultan menghadap ke Timur. Ada dua kaca besar tergantung di dindingnya. Pintu dan tiangnya didominasi warna kuning. Rumah itu disebut juga Gedung Kuning.
Di sebelah Tenggara Gedung Kuning terdapat Bangsal Kencono. Bangunan yang sering terlihat di TV. Langit-langit, dinding dan tiangnya dari kayu Jati yang diukir. Kata mbak Menik, warna kuning pada ukiran tersebut dilapisi serbuk emas.
Bangsal Kencono adalah bangsal yang terlihat paling mewah. Bangsal ini sering digunakan untuk acara besar keraton. Salah satunya waktu pernikahan putri Sultan yang ketiga, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurkamnari Dewi (30), dengan seorang pengusaha, Yun Prasetyo Hadi (32) pada Jumat 9 Mei 2008.
Setelah menikah, putra atau putri raja tinggal di luar lingkungan keraton. “Kenapa kok begitu mbak” tanya saya. “Ya nanti kalau tinggal di keraton semua, keratonnya jadi penuh” jawab mbak Menik. “Nanti kalau sudah diangkat jadi raja, baru tinggal di keraton lagi” kata mbak Menik menjelaskan.
Di samping Barat Bangsal Kencono terdapat ruang pusaka. Di sanalah pusaka-pusaka keraton disimpan. Bangsal ini tertutup untuk umum. Hanya kacanya saja yang bisa dilihat dari Bangsal Kencono. Sedangkan di Selatan ruang pusaka terletak Kaputren, tempat istri dan putri raja tinggal. Area ini juga tertutup untuk umum.
Jika ditarik garis lurus dari Utara ke Selatan maka akan terdapat bangunan: Bangsal Sri Manganti, Gedung Kuning, Ruang Pusaka dan Kaputren.
Di Selatan Bangsal Kencono berdiri Bangsal Manis. Kedua bangsal ini berhimpitan. Bangsal Manis digunakan untuk mencuci pusaka keraton. Pusaka dari ruang pusaka. Acara cuci pusaka dilaksanakan setiap tanggal satu Suro, saat tahun baru Jawa.
Di sebelah Timur komplek Bangsal Kencono ada halaman yang cukup luas. Di sini tumbuh pohon yang meneduhkan. Di halaman ini, sering digunakan pengunjung untuk berfoto.
Di sisi Selatan Bangsal Manis terdapat Gedhong Patehan. Fungsinya untuk menyiapkan aneka minuman jika ada acara di Bangsal Kencono. Waktu pernikahan putri Sultan yang ketiga, gedung ini masih digunakan. Di dalam Gedhong Patehan terdapat bermacam-macam koleksi peralatan minum yang antik dari berbagai negara. Mulai gelas hingga saringan air (dispenser) zaman dulu.
Selain bangunan diatas, kami juga mengunjungi museum lukisan. Di dalam museum ini terdapat lukisan para Sultan beserta permaisurinya. Mulai dari Sultan HB III sampai HB X. Kenapa lukisan Sultan HB I dan HB II tidak ada. Kata mbak Menik, di zaman itu belum ada pelukis yang melukis Sultan.
Permaisuri adalah istri raja yang juga keturunan raja. Orang biasa bilang keturunan darah biru. Jika bukan keturunan raja maka namanya selir. Hanya permaisuri yang bisa duduk bersebelahan dengan raja saat berada di singgasana.
Lalu kami juga mengunjungi museum peralatan yang dipakai para Sultan sehari-hari. Setiap Sultan mempunyai barang khas sendiri-sendiri. Tidak ada yang sama. Di ruangan itu, seingat saya ada gelas, sendok, piring, pistol, pedang, baju adat yang dipakai Sultan HB IX waktu sunat. Selain itu, ada juga mobil-mobilan, kamera dan teropong milik Sultan HB IX.
Kemudian kami melihat museum cindera mata. Di dalam museum tersebut terdapat cindera mata dari negara-negara sahabat. Seingat saya, ada hiasan keramik dari Jepang, guci dari Cina, tanduk kerbau yang sangat panjang dari Korea, lampu kristal dari Eropa, jam dari Belanda, dan lain-lain.
Waktu kami di ruangan ini, bebarengan dengan rombongan wisman dari Cina. Suara mereka gaduh sekali. Pemandunya memakai beskap dan menggunakan bahasa Cina juga.
Semua bangunan di atas adalah bangunan lama. Namun, ada satu bangunan yang mencolok dan tergolong bangunan baru. Sebuah pendopo bertembok kaca dengan keramik putih masa kini. Bangunan tersebut adalah museum Sultan HB IX. Di dalamnya dipajang barang-barang khusus milik Sultan HB IX. Ada meja kerja, lencana / tanda jasa yang pernah dipakai, prasasti, pesan Bung Karno, foto dan lain-lain.
Sultan HB IX diangkat jadi raja sepulang dari sekolah di Belanda. Waktu itu usianya masih 28 tahun dan belum menikah. Beliau juga dikenal sebagai bapak Pramuka Indonesia. Salah satu hobinya adalah fotografi.
Selama berkeliling, mbak Menik menemani kami dengan sabar. Ia menjelaskan setiap tempat yang kami kunjungi. Sesekali ia juga menjawab pertanyaan saya dan memotret kami berdua.
Tak terasa, dua jam sudah kami berkeliling di dalam keraton. Banyak tempat dan ruang kami singgahi. Rasanya kami seperti memasuki mesin waktu, kembali ke masa lalu. Masa yang pernah dialami oleh leluhur.
Bung Karno pernah berkata, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Siapa yang berhenti akan diseret oleh sejarah dan siapa yang menentang corak dan arahnya sejarah, tidak peduli tiada bangsa apapun, ia akan digiling, digilas oleh sejarah itu sama sekali.
Waktu menunjuk pukul sebelas. Kaki dan perut kami sudah agak rewel. Perjalanan masih panjang. (bersambung)